Kebutuhan Emosional Ibu Hamil; Berdamai dengan Trauma Masa Lalu 

Muslimahzone.com – Kehamilan adalah masa yang penuh dengan gabungan emosi. Perubahan suasana hati/mood adalah suatu hal yang lumrah, dari gembira menjadi takut, rasa gembira menjadi cemas. Perempuan hamil menjadi lebih mudah marah/kesal dan menjadi lebih membutuhkan dukungan moral dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Laju hormon dan serta perjalanan fisik yang tidak menentu selama masa kehamilan menjadi penyebab utamanya. Mereka membutuhkan jaminan rasa cinta, perhatian khusus dan kepedulian dari orang di sekelilingnya terutama pasangannya. Dukungan penuh dari pasangan dapat meredakan ketegangan yang mereka alami dan membuat mereka lebih menikmati proses perjalanan menjadi ibu.

Berdamai dengan Trauma Masa Lalu

Jika ibu hamil memiliki pengalaman psikologis yang tidak mengenakkan, -karena masalah pernikahan, pernah mengalami kekerasan fisik, seksual, emosi, atau trauma pada kehamilan dan persalinan sebelumnya- hal ini dapat menambah gejolak emosinya.

Hal yang lebih dikhawatirkan adalah terganggunya kesiapan mental ibu dalam menghadapi persalinan dan menyambut anggota keluarga baru yang akan dilahirkannya. Ini sebabnya, rasa sakit, amarah, ketakutan, dan kekecewaan tersebut harus diselesaikan sedini mungkin agar ibu memiliki kondisi emosi yang baru dan segar untuk menghadapi proses persalinan dan menyambut buah hatinya.

Bersama Orang-Orang yang Mendukung

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah belajar menerima semua hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut, menerimanya dengan seikhlas hati sebagai takdir dari Allah. Semoga hal-hal yang tidak mengenakkan tersebut dapat menjadi sarana penggugur dosa dan penambah pahala.

Langkah berikutnya adalah menemukan orang-orang yang dapat mendukung sepenuhnya, terutama suami, doula (pendamping persalinan), dan ahli medis yang sudah ibu dan keluarga pilih. Dan menyediakan waktu untuk mendiskusikan masalah-masalah apapun di masa lalu yang menurut ibu akan mengganggu kemampuan dan menyebabkannya menyerah pada saat melahirkan nanti. Setelah itu mencari solusinya dan melaksanakan solusi semampunya, sambil mengisi hati dengan senantiasa tawakal pada ketetapanNya.

Pada contoh kasus misalnya, ibu pernah trauma pada proses kelahiran sebelumnya, seperti ingin sekali melahirkan normal, tapi ternyata harus melalui pembedahan (sectio caesaria). Maka pemulihan yang dapat dilakukan adalah menerima kenyataan tersebut sebagai takdir terbaik dari Allah, karena takdir Allah selalu baik jika kita bersabar atau bersyukur. Yang kedua, mencari penyebab mengapa sampai harus melalui prosedur pembedahan. Misalkan jika alasan janin yang tak juga turun panggul karena bayi yang terlampau besar, maka banyak upaya yang dapat ditempuh oleh Ibu pada kehamilan saat ini, yakni dengan senantiasa melakukan olah panggul, senam hamil dan diet yang proporsional -tentu memperhatikan kehalalan dan kebaikannya-, dan melakukan observasi berkesinambungan kepada ahli medis. Sambil tentu saja tak lupa berdoa, mengisi kehamilan dengan banyak mendekat kepada Allah dan menyerahkan semua hasilnya kepada Allah.

Karena sejatinya Allah yang akan mengeluarkan bayi dari dalam perut Ibu, Allah yang mendesain setiap hal yang terjadi dalam tubuh Ibu dan bayi selama proses kehamilan dan persalinannya sebagaimana firmanNya dalam  Alquran. Allah yang membuat tulang panggul Ibu merenggang sedemikian rupa, Allah yang membuat janin berputar, Allah yang menjadikan hormon-hormon Ibu bekerja sedemikian rupa untuk mendukung proses kehamilan dan persalinannya, Allah yang membuat volume darah Ibu bertambah selama proses kehamilan, Allah sudah menciptakan jaring-jaring pengamannya dengan sangat detail. Rancangan Allah demikian sempurna pada proses kehamilan dan persalinan Ibu. Upaya ibu hanyalah semampunya tidak melawan kesempurnaan itu, berikhtiar yang seiring sejalan dengan kesempurnaan dan kealamiahan itu. Menyadari betul-betul bahwa kehamilan ini adalah sebentuk amanah dan ibadah yang agung dan menyadari bahwa pengorbanan ibu bagi sang bayi sangat berharga dan bernilai.

In syaa Allah dengan begini kecemasan dan ketakutan ibu dapat jauh lebih berkurang, dan proses persalinan nanti dapat menjadi obat sekaligus kemenangan emosional dan spiritual.

Oleh: Evanov Rahayuev (Trainee doula AMANI (Assisting Mother for Active, Natural, and Instinctive Birthing) 2015)

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga