Kasihanilah Anak Sekolah Kami

MuslimahZone.com – Membaca hebohnya kasus sebuah PR matematika anak SD di facebook, saya jadi teringat sebuah kisah:

Di dalam kelas, di sebuah SD, seorang guru memeriksa PR murid-muridnya. Sang guru ingin tahu apakah murid-muridnya mengerjakan sendiri atau dibantu orang tua.
“Siapa yang mengerjakan PR-nya sendiri, tidak dibantu ayah-ibu?” tanya sang guru.
Sebagian siswa mengangkat tangan.

“Siapa yang dibantu ayah ibunya mengerjakan PR?” tanyanya lagi. Sebagian murid mengangkat tangan. Melihat ada masih yang tidak mengangkat tangan, sang guru bertanya lagi.

“Siapa yang membantu ayah-ibunya mengerjakan PR?”
Barulah sisa murid di kelas mengangkat tangannya.

It’s only a joke!

Tapi sebagai ayah, kadangkala saya mengalami dilema saat membantu anak mengerjakan PR sekolah. Dilemanya ada dua; pertama, saya dan istri kesulitan dalam menerangkan logika pelajaran itu kepada anak. Bagaimana tidak?! Saya kesulitan menjelaskan dengan simpel kepada anak kelas 2 SD makna hak dan kewajiban. Kali lain saya kesulitan menerangkan penyebutan bilangan 1725 yang dipecah menjadi 1 ribuan + 7 ratusan + 2 puluhan + 5 satuan (apa sih manfaatnya pelajaran seperti ini untuk anak kelas 1 atau kelas 2 SD?).

Masalah kedua yang kami hadapi saat mengajarkan anak di rumah adalah perbedaan jawaban dengan guru. Ambil contoh; Ciri rumah yang bersih adalah …

Apa jawaban Anda sebagai ortu? Ketika anak kami mengisi dengan jawaban tidak kotor itu bisa disalahkan karena sang guru bisa menjawab punya jendela yang cukup. See! Tidak gampang mengajarkan pelajaran sekolah kepada anak-anak.

Jadi ketika muncul di sosmed ada kasus matematika 4+4+4+4+4+4 itu 4×6 atau 6×4, sungguh jawaban yang dilematis. Bukan saja dilematis buat orang tua dan anak, tapi saya percaya sang guru juga kebingungan.

Maka tidak fair bila kemudian banyak orang di FB menyalahkan sang guru. Saya melihat guru juga ‘korban’. Ia hanya operator dari sebuah mesin pendidikan yang tak jelas bentuk dan hasil yang akan dicetak. Anak-anak kita di sekolah dasar – juga sampai perguruan tinggi – tidak jelas mau diarahkan kemana. Kemampuan analisanya tidak terasah, keislamannya apalagi.

Ya, guru juga korban. Saya sering mendapat curhat dari famili maupun rekanan yang berprofesi sebagai guru. Mereka kebingungan dengan pergantian kurikulum. Saya juga sadar mereka juga pasti kesulitan mengajarkan hampir setiap mata pelajaran kepada para siswa. Anda pikir gampang mengajar anak-anak SD? Bayangkan kesulitan yang dihadapi seorang guru mengajarkan soal cerita matematika sementara di antara murid-muridnya ada yang belum lancar membaca.

Jadi masalah pendidikan kita memang berantai dan ‘lingkaran setan’. Banyak guru yang belum terasah jiwa ‘keguruannya’ (saya pernah lihat seorang guru membagikan buku pelajaran dengan cara dilempar kepada siswa), skill mengajar yang tidak diupgrade, ditambah pekerjaan administratif yang melelahkan, sementara kurikulum terus berganti-ganti.

Saya bukan pakar pendidikan, tapi saya punya pikiran simpel; pendidikan itu seharusnya mencetak anak-anak kita menjadi saleh/salehah, berkepribadian Islam dan cinta kepada ilmu, lalu cara mengajarkannya menyenangkan dan pelajarannya mudah diajarkan guru lagi mudah dicerna siswa.

Bagaimana anak bisa cinta ilmu bila gurunya kesulitan mengajar, tidak inspiring, PR bertumpuk, dan anak-anak sudah harus dipaksa bisa ini dan itu pada usia yang tidak pas (misalnya sudah harus bisa menulis halus/huruf sambung, padahal menulis huruf cetak saja masih sulit setengah mati!).

Sedikit melebar, persoalan pendidikan di negeri kita ada dua; persoalan teknis dan persoalan ideologis. Bicara persoalan teknis sebagian sudah saya sampaikan di atas. Mulai dari kurikulum yang rada-rada gajebo alias gak jelas, bo! Seperti apa pentingnya anak kelas 1-2 SD harus tahu makna hak dan kewajiban, musyawarah, rukun, dsb. Bukannya lebih simpel berikan contoh dan praktek langsung?

Juga apa iya bocah kelas 1-2 SD harus sudah bisa membaca dan menulis (termasuk menulis halus)? Belum lagi ada soal cerita dalam pelajaran berhitung padahal sang anak belum lancar membaca dan belum lancar menalar soal perhitungan dalam cerita. Berat, bo!

Adapun persoalan ideologis yang dihadapi pendidikan di negeri ini karena muatan sekulerisme yang begitu kental dalam kurikulum kita. Anak tak dikenalkan lebih mendalam tentang siapa Pencipta mereka, rasa bersyukur kepada Allah, dsb. Ini berkelanjutan hingga masuk ke jenjang perguruan tinggi. Outputnya jelas, banyak anak-anak kita yang smart dalam bidang akademik, tapi kepribadiannya menyedihkan; pacaran, hamil di luar nikah, melawan orang tua, tawuran, tak rajin ibadah. Dsb.

Saya tetap percaya dari negeri ini akan lahir Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, al-Khawarizmi, Abbas bin Firnas, al-Ghazali, Imam Syafi’I, karena potensi anak-anak kita memang luar biasa. Tapi pastinya ini dengan syarat dan ketentuan berlaku. Apa itu? Karena pendidikan itu sangat erat dengan landasan dan falsafah hidup — bahkan itu landasannya –, maka falsafah bangsa ini harus direstorasi dulu. Begitupula sistem kehidupannya.

Terus terang sekulerisme yang sekarang menjadi falsafah dunia pendidikan kita — dan semua bidang kehidupan – adalah sampah dan merusak, harus kita ganti dengan akidah Islam yang jelas visinya. Berikutnya tatanan kehidupannya harus dikembalikan kepada dien yang sesuai fitrah, yakni aturan Islam. Rasanya tak perlu basa basi, 14 abad diberlakukan Islam telah menghasilkan karya-karya masterpiece dalam segala bidang dari para jenial seperti ulama terkemuka.

Mengganti kurikulum tanpa mengubah falsafah kehidupan hanya akan menghasilkan generasi yang cerdas tapi miskin karakter dan miskin akhlak. Negeri-negeri penganut sekulerisme macam AS, Eropa, Jepang dan Korsel adalah contohnya.

Bila Anda sepakat, maka saatnya berdakwah selamatkan negeri ini dengan Islam. Hanya dengan Islam.

Oleh: Iwan Januar

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk