Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi

Muslimahzone.com – Di Hari Raya Idul Adha ini memang rasanya waktu yang tepat untuk menceritakan kepada anak tentang kisah Nabi Ibrahim tentang kurban. Namun, sebelumnya menceritakannya ada baiknya kita pahami dulu usia yang tepat untuk anak memahami kisah.

Berikut adalah sharing dari Sarra Risman yang merupakan tulisan beliau pada Idul Adha tahun lalu. Semoga bermanfaat.

***

Sudah masuk bulan Zulhijjah. Sudah waktunya mencicil cerita tentang latar belakang hari-raya nya. Karena suasana dan kegembiraan tidak bisa muncul serta merta, harus dibangun dulu beberapa waktu sebelum hari H.

Ini adalah Idul Adha pertama Kaizan yang diwarnai dengan kisah nabi Ibrahim. Dan karena namanya Kaizan Ibrahim, dia merasa ini hari raya nya, (hahahaha). Anak-anak saya memang belum diceritakan tentang nabi-nabi sebelum usia mereka melewati angka lima, karena bukan hanya mama nya tidak bisa menjelaskan, anaknya nggak ngerti juga. Sudah dicoba, berkali-kali, dengan berbagai cara, beragam buku dan media, tetep ga ngaruh. Dari usia 3. Udah capek-capek cerita, dia tanya the very basic question: nabi itu apa ma? Di usia 4 dicoba lagi, udah setengah jam menceritakan tentang nabi musa dengan bahasa anak-anak, dia nanya, kok ada firaun sih, ini kan cerita nabi musa. Dan.. nabi itu apa sih ma? CAPEDEEEE.

Ke-nabi-an memang konsep ‘abstrak’ yang hanya bisa dipahami oleh otak manusia with a higher thinking skill, ketrampilan berpikir tingkat tinggi, yang baruuuu saja di mulai di usia 5 tahun. Bukan hanya nabi, malaikat dan hal-hal yang berbau ‘ghaib’, tapi juga konsep-konsep seperti menunggu, sabar, mengantri, berbagi, dan hal-hal yang tidak konkrit lainnya. Lagipula, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menceritakan pembunuhan Habil oleh Qabil, abangnya, ke anak di bawah usia 5. Juga menjelaskan makna durhakanya Kan’an kepada ayahnya Nabi Nuh, pengeluaran untanya nabi Shaleh dari batu, api yang tidak bisa membakar nabi Ibrahim, ketakwaan penuhnya Ismail sampai mau disembelih oleh ayahnya, bagaimana anak-anak Yaqub bisa sampai membohongi ayahnya, dan betapa teganya abang-abangnya nabi Yusuf terhadap adiknya. Karena konsep sabar juga perlu dipahami dengan this higher thinking skills, saya tidak bisa menjelaskan keunggulan nabi Ayyub atas penyakit yang di deritanya. Tidak percaya bahwa diperlukan a higher thinking skill untuk belajar sabar? Yang punya anak balita tau betul, bahwa anak akan mau sesuatu, dan maunya SE. KA. RANG. Mereka ga mau tau ibunya lagi makan kek, nyuci piring tanggung tinggal 2 biji kek, ataupun bahkan sedang pup. Super duper tidak perduli. Pokoknya I want it, and I WANT IT NOOOWWW!!

Saya juga tidak bisa membuat mereka paham kenapa Allah membiarkan salah satu manusia pilihannya sampai dimakan sama paus, berhari-hari pula. Kenapa Allah bisa membiarkan lidah nabi Musa terbakar hanya untuk membuktikan sama Fir’aun bahwa dia masih kecil. Untuk otak kecil mereka, kok tega sih Allah, membuktikannya sedetik, tapi kan kebakarnya forever. Iyaaaa.. kita paham kenapa. Tapi kan usia kita juga sudah lebih dari 5.

Karena masih dalam tahap berpikir konkrit, kalau diceritain tentang kisah-kisah nabi, yang ada kalau mereka ke pantai, dia ambil tongkat dan mencoba membelahnya. Dia akan pegang api dan berpikir bahwa api juga tidak akan membakarnya, karena bukankah kita yang mengajarkannya bahwa Allah sayang padanya? Masa iya Allah tega sih nyakitin? Apa bedanya dia sama Ibrahim? Kan sama-sama manusia. Kalau diceritain tentang nabi di bawah lima, yang ada dia bicara dengan burung yang hinggap di pohon depan rumah, persis seperti nabi Sulaiman. Belum kalo dia bertanya kok bisa Maryam punya baby Isa kalau yang selama ini kita mengajarkan bahwa tante itu harus jadi pengantin dulu sama suaminya baru bisa punya dedek Linda. Kaizan juga pernah minta dibelek dadanya seperti Nabi Muhammad agar yang jelek-jelek bisa ikut terbuang juga ketika kita sedang menceritakan kisah tersebut ke abangnya.

Sekarang, di usianya yang sudah lewat dari 5,5, dia jauh lebih menikmati (dan mengulang-ngulang) kisah nabi yang kita sampaikan kepadanya, khususnya Ibrahim. Dia bangga atas keberanian Ibrahim melempari syaithan 3x ketika menggodanya on the way menyembelih Ismail. Dia bangga atas ketaqwaan Ibrahim terhadap perintah Allah walaupun sulit luar biasa. Dia ikut tertawa mengetahui nama istri nabi Ibrahim sama dengan nama panggilan ibunya. Dia bahkan sudah menentukan siapa nama anak nya kelak (sudah ketebak kan siapa?:))

Yang belum tinggal melihat penyembelihan. Karena baru melepas diri dari cara berpikir konkrit, anak-anak sebelum, sekitar dan baru lepas dari usia 5 memang belum pas melihat hilangnya nyawa, apakah itu manusia ataupun binatang. Pemahaman akan kematian, dan pengqurbanan belum mantap bisa ditangkap oleh otaknya yang masih segenggaman tangannya itu. Kami memang sengaja menunda selama mungkin untuk memperlihatkan perilaku pembunuhan apapun. Apalagi mendengar ada kisah anak yang ‘menyembelih’ kucing setelah melihat penyembelihan. Mereka memang belum tau apa yang boleh dilakukan, dengan cara apa, kapan, bagaimana dan kepada siapa. Untung ‘Cuma’ kucing. Kalau adiknya? Children see children do bukan? Jadi saya lebih memilih mereka tidak see sampai waktunya kembali tepat. Sekarang cukup dulu membuat dia bangga dan mengerti kenapa kita menamainya seperti Sang Khalilullah. Semua ada waktunya. Segala sesuatu jika dilakukan tepat usia Insha Allah akan jauh lebih mudah. Sedangkan semua yang dikarbit tidak pernah manis rasa buahnya.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk