Kapan Berkata Tidak Kepada Anak?

MuslimahZone.com – Banyak melarang anak terutama pada usia 7 tahun pertama, dapat memasung kreativitasnya. Benar memang, namun pernyataan ini agaknya tidak mutlak seperti itu. Apa jadinya jika dunia ini tanpa larangan sama sekali. Bahkan kalimat syahadat pun dimulai dengan kata tidak. Di Alquran pun kita dapati bertebaran kalimat yang menyatakan larangan. 

Dalam kehidupan sehari-hari ada hal-hal yang tidak bisa tidak kita harus menggunakan kalimat larangan. Misalkan pada kalimat “Dilarang Merokok!” kita tidak mungkin menggantinya dengan kalimat positif, “Matikan Rokok Anda!” Namun, memang ada kalanya kata tidak atau jangan menjadi semacam candu para orangtua dalam mendidik anak demi mendapatkan solusi instan. Sebagai contoh ketika anak kita dapati bermain pasir dan tanah di teras rumah. Dengan serta merta sang ibu berkata, “Jangan main pasir di teras rumah dong, gimana sih Ibu kan sudah ngepel, sana-sana, jadi kotor lagi deh!” Padahal jika ibu lebih jernih, ia dapat berkata, “Sayang, main pasirnya di halaman saja ya, hayu dibersihkan dulu lalu pindah ke halaman.” Kalimat kedua tentu lebih mudah dipahami anak dibandingkan dengan kalimat pertama, anak-anak tidak merasa terpojok tapi diajarkan bertanggungjawab dalam melakukan ‘eksperimen-eksperimen’nya.

Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan para orangtua ketika harus melarang anak:

  1. Mengetahui maksud aktivitas sang anak dengan jelas. Saat anak kita melakukan ‘percobaan-percobaan’nya, ada kalanya hal itu akan sangat mengganggu kerapihan, adab dan sopan santun yang berlaku, mungkin juga menimbulkan kerusakan pada barang-barang berharga kita. Orangtua harus memahami apakah aktivitasnya merupakan konsekuensi dari perkembangan otaknya (untuk memenuhi rasa ingin tahunya) ataukah percobaannya yang kadang-kadang ‘ajaib’ itu sudah meningkat menjadi kebiasaan yang negatif.

Misalkan ketika saat ada tamu, anak meminta perhatian dengan merengek-rengek ingin diambilkan ini dan itu. Orangtua hendaknya berusaha mengerti apa sebenarnya tujuan sang anak merengek, apa ia hendak menunjukkan kebolehannya kepada sang tamu ataukah hanya sekedar mengalihkan perhatian orangtua karena merasa terabaikan saja dan hal ini kerap berulang. Jika tujuannya yang pertama dan kondisi memungkinkan atau tidak mengganggu pertemuan dengan sang tamu, keinginan anak bisa kita akomodir. Jika dirasa hal tersebut mengganggu, beri penjelasan yang singkat dan mudah difahami pada mereka dan beri aktivitas alternatif. Demikian pula, jika  yang kedua, beri pengertian padanya bahwa kita sedang ada tamu dan beri alternatif aktivitas yang dapat menyibukkan dirinya. Setelah itu, pada saat-saat kita dan anak dalam kondisi netral dan santai, kita dapat membuat semacam komitmen atau peraturan ketika sedang ada tamu atau ketika bertamu.

  1. Menyertai larangan dengan penjelasan. Orangtua gemar sekali melarang namun malas memberikan penjelasan. Akibatnya orangtua akan berulang kali melarang lagi dan melarang lagi. “Pokoknya kamu ga boleh jajan di luar ya, bahaya, mengerti?” Atau memberikan larangan dengan ancaman-ancaman yang tidak logis, “Nanti disuntik lho kalo gangguin adiknya terus!”

 Jika hal ini terus berulang dan menjadi kebiasaan yang membentuknya sehari-hari, anak akan memiliki konsep diri yang rapuh dan dapat pula memicunya untuk berbohong. Di depan kita ia memang tidak akan jajan sembarangan, tapi karena ia tidak mengetahui alasan yang logis dan kuat mengapa ia tak boleh jajan, ketika ia melihat kawan-kawannya yang lain jajan dan tidak terjadi sesuatu yang ditakut-takuti oleh ibunya, sangat mungkin anak akan tergoda untuk melanggar larangan sang ibu.

Maka, penjelasan atas larangan sangat mereka perlukan untuk membangun konsep diri yang kokoh pada diri anak. Penjelasan disini dapat berupa alasan yang masuk akal, informasi-informasi yang menguatkan atas larangan kita dan kondisi pembanding yakni kondisi yang terjadi jika larangan tersebut mereka langgar. Syaratnya, ketiga macam penjelasan tersebut harus memuat informasi-informasi yang benar, bukan ancaman yang dibuat-buat atau berisi tahayul.

  1. Beri alternatif tindakan yang bisa mereka ambil. Ketika kita melarang anak, terjadi semacam stagnasi pada diri mereka meskipun sudah kita beri penjelasan. Meskipun –jika mereka menerima penjelasan kita- cepat atau lambat mereka segera akan menemukan alternatif tindakan yang menurut mereka lebih mengasyikkan. Apalagi jika kita membantu mereka memberi alternatif tindakan yang cerdas yang dapat mereka ambil, insya Allah hal ini akan sangat membantu anak menjadi kreatif dan mengokohkan jiwanya.
  2. Memberi batasan-batasan yang benar. “Pokoknya sekarang kamu ga boleh pacaran, belajar dulu yang betul, nanti kalau sudah besar baru boleh!” Ada kalanya orangtua berfikir pendek ketika memberi batasan pada anak. Padahal ada hal-hal yang memang menurut syari’at mutlak tidak boleh dilakukan alias haram untuk anak-anak lakukan kapanpun waktunya. Atau mengatakan, “Kita tidak boleh makan daging babi karena ada cacing pitanya.” Anak-anak yang kritis dapat dengan mudah mengatakan, “Kalau cacing pitanya sudah dibersihkan berarti boleh ya?” Padahal larangan memakan daging babi adalah mutlak alias taukifiyah, bukan hal yang memerlukan alasan (ilat hukum). Jadi, meski daging babi tersebut sudah tidak mengandung cacing pita, ia tetap haram dikonsumsi. Maka disini orangtua memang harus terus belajar mana hal-hal yang dilarang dalam syariat dan batasan-batasannya yang benar.

Akhirnya, memberi penjelasan atas larangan-larangan kita memang membutuhkan ekstra usaha dan ekstra waktu. Tapi memang demikianlah seninya mendidik anak. Insya Allah semua upaya kita tercatat sebagai amal sholih jika kita menjaga ketulusan niat kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kejernihan hati untuk menemani mereka tumbuh dan berkembang. Hanya kepada Allah kita memohon bimbingan dan kemudahan. Wallahua’lam. (esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk