Kapan Berkata Jangan Kepada Anak (Bag.2-Habis)

Muslimahzone.com – Betapa hancurnya sebuah dunia jika tidak ada larangan sama sekali di dalamnya. Namun, seperti telah diurai sedikit pada artikel sebelumnya, bahwa kadang kala agar sebuah laragan dapat dipahami dengan efektif, diperlukan menghilangkan kata larangan dalam redaksinya. Kemudian diganti dengan alternatif tindakan sebagai solusinya. Seperti kalimat “Jangan Buang Sampah Sembarangan” bisa ditukar dengan kalimat “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”. Kalimat kedua lebih jelas maksudnya, positif, dan mudah dimengerti.

Tapi kemudian apakah semua bentuk larangan akan lebih efektif dengan menghilangkan kata larangan dala redaksinya? Ternyata tidak, banyak perkara larangan terutama yang menyangkut pembelajaran akidah, halal-haram, penjagaan terhadap hak-hak orang lain, bahkan larangan yang hanya bersifat administratif yang justru akan lebih mudah dipahami dan lebih tegas jika memakai kata tidak atau jangan. Apa saja contohnya, berikut ulasannya;

Lebih Efektif dengan Kata Tidak atau Jangan

Ada contoh yang mudah kita temui di sekeliling kita. Larangan merokok di negeri kita menggunakan kalimat positif dengan menyebutkan serangkaian bahaya merokok. Atau pada tempat-tempat tertentu digantikan dengan kalimat, “Matikan Rokok Anda!” atau “Harap Merokok Di Tempatnya”. Kalimat matikan rokok atau harap merokok di tempatnya masih memberikan toleransi kepada perokok asalkan tidak merokok di tempat tersebut, bahkan kalimat merokok di tempatnya seolah memberikan pemuliaan kepada perokok dengan memberikan tempat khusus.

Bandingkan dengan kalimat “Dilarang Merokok!”, kalimat ini berarti penolakan penuh terhadap rokok, tidak ada toleransi. Kalimat larangan yang sederhana, ringkas, tajam, dan jelas melarang.

Ada contoh lain lagi yang sungguh-sungguh harus menjadi perenungan kita terhadap pendapat yang ekstrim mengatakan jangan katakan jangan kepada anak. Yakni kalimat syahadat.

Tidak sah syahadat tanpa mengucap kata tidak. Bermula dari kata tidak, perubahan besar bisa terjadi, dari kafir menjadi Muslim. Bermula dari kata tidak, sebuah risalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam telah merubah jazirah Arab yang jahiliyah menjadi kekuatan yang disegani dan mencerahkan. Budak-budak dan orang-orang yang semula dihinakan, sekarang telah berdiri dengan gagah di depan para raja dan kaisar tanpa gemetar sedikit pun. Kata tidak yang membuat mereka percaya diri luar biasa, tidak minder, tidak pula sombong.  

Kata tidak dalam syahadat –tidak ada tuhan kecuali Allah- menjadi penegas dan penguat pernyataan. Kesaksian bahwa tuhan itu adalah Allah tidak cukup menggambarkan bertauhidnya seseorang. Orang yang berkata bahwa tuhannya Allah, bisa saja pada saat yang sama menghamba kepada yang lain. Tetapi, manakala bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, kita menegaskan bahwa tidak ada satu pun di muka bumi ini yang layak di sembah kecuali Allah. Kata tidak menjadi menegaskan kesaksian bahwa tuhan itu Allah. Tak ada yang lain.

Sertai dengan Penjelasan

Dalam Al Quran kita dapati betapa banyaknya larangan dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada manusia yang dengan tegas menggunakan kata jangan. Mari perhatikan bagaimana Allah memberikan larangan. Misalnya, pada ayat berikut, “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh penampilan orang-orang kafir di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan sejenak, kemudian tempat kembali mereka adalah (neraka) Jahanam, dan itulah tempat yang paling buruk.

Namun bagi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya ada surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya, sebagai tempat tinggal di sisi Allah. Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 196-198)

Dalam ayat larangan ini, tegas menggunakan kata jangan, namun ada penjelasan yang menyertai. Kemudian penjelasan ini dikuatkan lagi dengan menerangkan keadaan yang berkebalikan dengan mereka yang menerjang larangan, yakni nikmat surga yang bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam hal ini, ada larangan, ada penjelasan yang menyertai, dan ada pembanding yang kuat. Jadi, bukan berisi larangan semata.

Kita juga bisa memperhatikan bagaimana ketika Luqman memberikan nasihat berisi larangan kepada putranya. Ia berkata, “ Wahai anakku,  janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13). Lagi-lagi ada penjelasan yang menguatkan larangan.

Pola lain dalam memberi larangan adalah dengan disertai alternatif atau pengganti. Misalnya tatkala Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Apabila kamu hendak melakukan shalat, janganlah berjalan dengan tergesa-gesa, namun datangilah dengan tenang dan kesabaran terhormat.” (HR. Bukhari)

Sebagai orangtua ada yang dapat kita renungi dari contoh-contoh di sini, bagaimanakah selama ini pola kita dalam melarang anak? Yang paling mudah memang melarang anak tanpa alasan, semata karena kita tidak ingin direpotkan dengan percobaan-percobaan dan rasa ingin tahu mereka. Kemudian membuat alasan-alasan yang dibuat-buat, termasuk menakut-nakuti anak dengan alasan yang tidak logis dan cenderung bermuatan dusta.

Sebagai contoh, ketika orangtua tidak ingin anaknya keluar rumah karena enggan repot atau sedang lelah, dengan ringan melarang sambil menakut-nakuti, “Jangan keluar Dek, nanti ada badut!” atau “Jangan ke sana, ada Bang Tonggre lho!” Padahal tidak ada, pun ada sosok yang ditakuti-takuti, larangan semacam ini justru melemahkan mental anak. Jangan salahkan anak, jika saat ia seharusnya sudah mampu membantu kita membelikan garam di warung, dan kita membutuhkan bantuannya, ia menolak lantaran trauma terhadap badut atau Bang Tonggre.

Semoga ada yang dapat kita insyafi dari sini. Katakan jangan kepada anak, tetapi sertailah dengan penjelasan yang kuat. Berilah mereka pembanding dan penguat atau alternatif tindakan yang bisa mereka ambil.

Hati-hati dalam Memberi Batasan

Sebagian orangtua bermaksud menegaskan larangan, tetapi yang ia lakukan sebenarnya memberi batasan dan melonggarkan. Misalnya, ketika anaknya kelas 5 SD berbicara tentang pacaran, orantua menukas dengan kalimat, “Tidak boleh pacaran. Kamu masih kecil.” Kalimat yang menyertai larangan seperti memperkuat larangan, tetapi sebenarnya memberi batasan waktu, yakni larangan itu hilang jika mereka sudah besar. Masalahnya adalah, tanpa penjelasan yang cukup, anak memahaminya bukan saja sebagai batas waktu bicara tentang pacaran. Lebih dari itu juga mencakup kebolehan pacaran jika waktunya telah tiba.

Karenanya, jika sebuah larangan memang tidak boleh secara mutlak diterjang kapan pun waktunya, maka janganlah memberi batasan. Sampaikan saja larangan dan sertai dengan penjelasan atau alternatif tindakan.

Larangan yang Tegas dan Menyentak dalam Keharaman dan Kezaliman

Adapun terhadap kesalahan yang bersangkut-paut dengan hukum halal-haram, dalam hal ini terkait makanan, maka didapati tuntunan yang lebih tegas. Dengan tujuan pendidikan bahwa memakan harta yang haram benar-benar tercela. Proses meluruskan kesalahan dengan memberi kesan yang sangat mendalam. Dan harap dicatat! Tindakan ini berlaku untuk anak-anak yang masih kecil.

Mari perhatikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan: Hasan bin Ali pernah mengambil kurma sedekah (zakat) dan memakannya. Melihat itu Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Salam berkata, “Kakh…kakh…! Buang kurma itu. Tidakkah kamu mengetahui bahwa kita tidak boleh makan sedekah?” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadis yang senada juga diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi maupun Imam Ahmad rahimahumullah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad kita dapati bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Salam mengeluarkan kurma tersebut dari mulut cucunya. Jadi, bukan sekedar perkataan. Seseorang berkata, “Apa masalahnya, ya Rasulallah, jika anak ini memakan kurma tersebut?

Sesungguhnya kami keluarga Muhammad tidak halal memakan harta sedekah.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain, ada contoh sikap yang harus lebih tegas lagi ketika anak melakukan perbuatan melanggar hukum yang lebih berat, terkait dengan keselamatan nyawa, meskipun nyawa hewan. Ini termasuk perbuatan zalim. Dan kezaliman lebih mendesak untuk dihentikan dengan segera. Ini terjadi ketika anak-anak sudah memasuki usia remaja. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menegur mereka dengan perkataan sangat keras; mencela perbuatan tersebut (catat: perbuatan, bukan orangnya) sebagai terlaknat.

Dari Ibnu Umar radhiyallahuhu ‘anhuma bahwa ia pernah melewati beberapa anak muda Qurays sedang memasang seekor burung untuk dijadikan sasaran memanah. Tetapi masing-masing di antara mereka tidak ada yang tepat bidikannya. Begitu melihat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, mereka berpencar. Ibnu Umar lalu berkata, “Siapa yang melakukan ini?! Allah telah mengutuk orang yang berbuat begini. Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam mengutuk orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari contoh-contoh di atas, semoga kita dapat mampu menempatkan kapan larangan kita sampaikan dengan lembut, tegas, bahkan menyentak dan terkesan dramatis. Kita dapat lebih kalem ketika anak-anak bermain tanah, memanjat punggung kita saat shalat, membuat rumah berantakan, namun dapat tegas ketika mereka melanggar hukum Allah. Bukan sebaliknya. Laa haula wa laa quwwata illa billah..

Wallahu’alam bish shawab.

Sumber:

  1. Saat Berharga Untuk Anak Kita, M. Fauzil Adhim (Pro-U Media, 2011)
  2. Segenggam Iman Anak Kita, M. Fauzi Adhim (Pro-U Media, 2013)

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk