KAA : Dibalik Agenda Kesetaraan Gender dan Emansipasi Wanita

MuslimahZone.com – Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang digelar di Jakarta berakhir pada Jumat (24/4). Dalam konferensi tersebut berhasil melahirkan tiga dokumen, salah satunya adalah dokumen Pesan Bandung.

Pesan Bandung terdiri dari 41 poin. Secara umum, dokumen ini berisi sejumlah kerjasama yang akan dilakukan bangsa-bangsa Asia Afrika, antara lain soal penguatan solidaritas politik, memperkuat kerjasama bidang ekonomi dan mempererat hubungan sosial dan kebudayaan.

Salah satu poin dalam Pesan Bandung menyebutkan bahwa negara-negara Asia Afrika berkomitmen untuk mendorong kerjasama di bidang kesetaraan gender dan emansipasi wanita, yang difokuskan untuk menyediakan akses pendidikan, kesehatan serta lapangan pekerjaan bagi mereka.

Tampaknya KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) dan sejumlah organisasi momen lainnya telah berhasil memasukkan poin kesetaraan gender dan emansipasi dalam agenda KAA. Sejak awal mereka gencar ingin memanfaatkan konferensi ini untuk menyuarakan perlawanan atas praktik Islam konservatif yang dinilai merintangi hak-hak perempuan.

KPI beranggapan bahwa hukum agama (Islam) mensyaratkan bahwa perempuan tidak bisa memperoleh hak yang sama dengan kaum pria.Oleh karena itu, para aktivis perempuan menguatkan upaya “people to people engagement” untuk mendorong pemerintah negara memberlakukan kebijakan yang lebih memihak kaum perempuan. Karena ada gejala atau kecenderungan bahwa negara dan kekuatan-kekuatan konservatif dianggap membuat mundur situasi perempuan baik itu dalam aspek sosial, ekonomi, maupun politik.

Para pegiat kesetaraan gender selalu berdalih bahwa pemberdayaan perempuan akan menempatkan perempuan dalam posisi mandiri sekaligus menghilangkan diskriminasi atas dirinya.  Perempuan  diposisikan sebagai pejuang keluarga karena menggunakan pendapatannya demi mensejahterakan keluarganya, termasuk berperan sebagai pencari nafkah utama (breadwinner).  Bahkan perempuan memiliki kontribusi penting dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara.

Demi tujuan itu, mereka menciptakan definisi ‘kekerasan ekonomi ringan’.  Seseorang terkena delik itu bila dia melakukan upaya-upaya sengaja sehingga menjadikan korban (perempuan) bergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.  Bukankah hal ini menjadi legalitas bagi perempuan untuk memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri?

Sayang, perjuangan pembebasan perempuan dari himpitan ekonomi dan diskriminasi hanyalah argumen palsu yang dijajakan para feminis.  Sejarawan Bernard Lewis dalam bukunya, The Middle East, menyingkap faktor utama dalam program emansipasi perempuan adalah kebutuhan ekonomi, yakni kebutuhan akan tenaga kerja perempuan. Melalui parameter pencapaian MDGs, khususnya tujuan pencapaian pendidikan dasar serta mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, negara diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja perempuan sesuai tuntutan pasar.

Realitasnya, memperkerjakan perempuan bukan sekadar mengakomodir jargon kesetaraan gender. Hitung-hitungan ekonomilah yang dijadikan sebagai alasan utama pemanfaatan jasa mereka.

Menjadikan perempuan sebagai aktor utama untuk memerangi kemiskinan, adalah pendekatan yang salah. Pasalnya hal ini seperti menaruh beban di pundak perempuan.gerakan pemberdayaan perempuan sejatinya adalah usaha untuk mengalihkan perhatian atas kegagalan sistem kapitalis. Sistem ini telah gagal dalam menciptakan lapangan kerja yang memadai bagi laki-laki untuk mengangkat keluarga mereka keluar dari kemiskinan. Karena itu banyak perempuan merasa bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain selain bekerja. Buruh-buruh perempuan terpaksa bekerja lebih dari 48 jam seminggu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal dari hasil penelitian, lanjutnya, hampir 5 juta perempuan yakni sekitar 57 persen dari perempuan yang bekerja tidak mendapatkan hak yang memadai. Inilah sesungguhnya yang diinginkan kapitalisme yaitu memaksimalkan keuntungan dengan mengorbankan martabat dan hak-hak perempuan.

Penjelasan di atas diperkuat oleh Nicholas Rockefeller—seorang penasihat RAND—menyatakan tujuan kesetaraan gender adalah untuk mengumpulkan pajak publik 50% lebih dalam rangka mendukung kepentingan bisnis.  Survei Boston Consulting Grup (BCG) menyimpulkan bahwa secara global  perempuan akan mengontrol  15 triliun dolar untuk belanja pada tahun 2014.

Pada tahun 2028, BCG  mengatakan perempuan akan bertanggung jawab  bagi dua-pertiga belanja konsumen di seluruh dunia. Di Indonesia, perempuan memegang 65 persen keputusan konsumsi sehingga sedikitnya 300 miliar dolar AS konsumsi diputuskan oleh kaum perempuan.

Hasil survei Economist Intelligence Unit dalam laporan berjudul, “Women’s Economic Opportunity 2012,” menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-85 dari 128 negara yang disurvei menyangkut peluang ekonomi bagi perempuan.  Perempuan menjadi  pasar potensial  bagi komoditas Barat jika mereka memiliki usaha sendiri.  Karena itulah semua pihak berkepetingan menyukseskan pemberdayaan UMKM perempuan.

Makin terungkap nyata bahwa tujuan semua permufakatan bisnis yang disokong implementasi ide-ide gender adalah demi kepentingan Blok Barat yang ingin menguatkan liberalisasi perdagangan.

Peran serta UMKM hanya dibutuhkan dalam rantai supply bisnis mereka, bukan memakmurkan perempuan, apalagi segenap bangsa.  Realitas yang terjadi sesungguhnya adalah upaya massif eksploitasi perempuan sebagai obyek ekonomi dan finansial.

Hakikat Peran Perempuan

Perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan suatu bangsa. Namun, dalam bingkai ideologi Kapitalisme, peningkatan peran perempuan justru fokus pada peran publik dan peran ekonominya. Padahal sesungguhnya peran perempuan yang utama adalah sebagai ibu dan pendidik generasi.  Saat ini justru peran alami inilah yang tergeser dan teralihkan melalui pemberdayaan ekonomi perempuan. Padahal penghapusan kemiskinan tak cukup dengan memberdayakan perempuan saja.  Pasalnya, kemiskinan adalah masalah global akibat ketimpangan akses ekonomi yang dihadapi si lemah versus si kuat, baik dalam tataran negara, masyarakat ataupun individu.

Parahnya, arus pemberdayaan  yang dikembangkan lembaga global, pemerintah dan pegiat gender justru menarik para ibu untuk ikut mencari nafkah; baik karena keterpaksaan akibat kemiskinan maupun terpikat  dengan isu  pemberdayaan perempuan.  Akibatnya, ibu tidak optimal menjalankan fungsinya dalam pembentukan karakter positif.  Fatalnya, negara pun abai dalam fungsi ini.  Negara justru sibuk memperhatikan kepentingan para kapitalis untuk meraih keuntungan materi dan duniawi semata, yang ternyata makin melemahkan fungsi keluarga.

Boleh saja perempuan memiliki penghasilan sendiri, namun bukan diposisikan sebagai pencari nafkah utama. Pendek kata, pemberda-yaan perempuan tak mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi secara tuntas, apalagi mensejahterakan. Alasannya, karena masyarakat, termasuk kaum perempuan, akan tetap berhadapan dengan problem klasik kapitalistik: pendidikan mahal, biaya kesehatan yang tak terjangkau, inflasi, kenaikan harga TDL dan BBM, transportasi berbiaya tinggi, ketidakadilan sistem, dan sebagainya.  Penyelesaian yang akan menuntaskan problem kemiskinan hanyalah dengan menghilangkan penyebab utamanya: hapus sistem kapitalis, lalu ganti dengan sistem Islam dalam wujud Khilafah Islamiyah. Menegakkan sitem Islam dalam institusi Khilafah, selain sebagai wujud keimanan, juga akan merealisasikan kesejahteraan bagi semua bangsa.

Oleh : Nurdianiwati, M.Pd (Guru SMA Negeri 1 Ngawi)

Sumber: detikislam.com

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Jangan Sembarangan Menuduh Muslimah Sebagai Pelacur !
Memurnikan Keikhlasan
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Agar Bahagia, Sesuaikan Harapan Pernikahan Anda
Tips Menjalani LDM Bagi Suami Isteri
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk