Istri Teladan Harus Cekatan

MuslimahZone.com – Istri teladan harus menjauhi sifat-sifat malas dan lamban. Dia mengetahui nilai waktu, karena waktu merupakan umurnya yang kelak akan dipertanyakan. Oleh karena itu dia mengembangkan segala potensi dan tidak menghambat kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dia kembangkan potensi dan kemampuan dirinya di jalan Allah. Baik kemampuan dia dalam menjahit, menenun, membaca atau keterampilan-keterampilan lainnya yang merupakan anugerah Allah yang harus dimanfaatkan.

Siapa yang mempunyai keahlian membaca, maka ia bisa membaca bacaan-bacaan yang bermanfaat, sehingga bisa membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan. Selain itu dia juga bisa mengajarkan kepada orang lain.

Siapa yang bisa menjahit, dia bisa menjahit pakaian yang bermanfaat sehingga dia bisa mengambil manfaat dari keterampilannya itu dan bisa bekerja.

Siapa yang mempunyai keterampilan dalam masak-memasak, dia bisa memasak dan menyantuni orang miskin, orang-orang kelaparan dan sanak saudaranya yang membutuhkan, karena ini merupakan shadaqah baginya.

Dari Abu Musa bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap orang muslim punya hak shadaqah.” Beliau ditanya, “Jika ia ia tidak mendapatkan suatu untuk dishadaqahkan?” Beliau bersabda, “Dia harus bekerja untuk memberi manfaat bagi dirinya.” “Bagaimana bila ia tidak mampu berusaha?” Beliau bersabda, “Menolong yang sedang kesusahan.” Beliau ditanya, “ Bagaimana bila ia juga tidak mampu?” Beliau bersabda, “ Menahan diri dari segala keburukan adalah shadaqah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hidup dengan serba terampil dan cekatan itu dimaksudkan untuk menciptakan kemajuan dan peradaban bagi umat kita. Tidak ada tempat untuk bermain-main dan bersantai-santai serta hal-hal yang tidak bermanfaat dalam kehidupan muslimah. Sehingga semangat masyarakat semakin bertambah, jiwa manusia semakin unggul dan potensi yang terpendam bisa dimanfaatkan. Para muslimah bisa belajar dan mengajari orang lain. Aktifitas seseorang tidak berhenti pada umur tertentu.

Ummul Mu’minin Hafshah juga belajar menulis dari Asy –Syifa’, karena memang dia seorang wanita yang pandai menulis. Dari Asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams radhiyallahu ‘anhaa dia berkata: ‘Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat kami dan aku berada di sisi Hafshah lalu dia bersabda, “ Mengapa engkau tidak mengajarkan pengobatan sebagaimana engkau mengajarkan kepadanya tulis menulis?”

Istri shalihah selalu mengefektifkan waktunya yang dianggap sebagian orang waktu senggang, yang bisa menimbulkan rasa jemu dan bosan yang dianggap berat dan pahit. Tetapi dengan kerajinan istri yang teladan mampu menjadikan kehidupan bernilai tinggi. Oleh karena itu, dia bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu agama, seperti memahami kitab Allah dan hukum-hukum fiqih yang dibutuhkannya, agar bisa mengetahui hukum-hukum halal dan haram.

Dia bisa meringkas buku-buku yang dibaca sehingga sang suami bisa mengambil manfaat darinya. Di samping itu, dia juga bisa mengikuti radio, mendengarkan berbagai berita dan peristiwa di penjuru dunia, sehingga dia bisa menyadari keberadaannya di dunia. Semua ini dilakukan karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

 

Kewajibannya terhadap keluarga suami, silaturahmi dan mengunjungi orang yang sakit harus diprioritaskan dari pada pekerjaan lain yang bisa ditangguhkan. Dia bisa menangguhkan tugas mencuci dan menyeterika pakaian sehari, agar waktu dan pekerjaan bisa berjalan selaras, sehingga dia memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tanpa meremehkan pekerjaan yang lain.

Bukan berarti seorang wanita harus mengaktifkan setiap jengkal waktunya. Tetapi ada saat-saat tertentu bagi keluarga untuk bersantai.

Kita mempunyai keteladanan yang baik pada diri Rasulullah dan canda beliau bersama ‘Aisyah, dan perlombaan larinya dengan ‘Aisyah. Suatu kali ‘Aisyah menang dan tatkala ‘Aisyah sudah gemuk maka beliaulah yang menang, sebagaimanan yang telah dirriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud dalam hadits yang shahih.

Seorang istri bisa bertamasya dengan keluarganya, bercanda dengan suaminya dan anak-anaknya sehingga bisa membangkitkan semangat untuk menapaki kehidupan ini.

***

Disalin dari buku Rahasia Sukses Istri Shalihah (Terjemah Az-Zaujatul Mitsaaliyah), Haulah Darwaisy, Hal 95-100, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, dengan sedikit perbaikan dari Tim Muslimah.

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk