Ironi Perempuan Penanggung Nafkah Keluarga

MuslimahZone.com – Adakah perempuan yang ingin hidup sengsara? Tentu saja tak ada. Perempuan manapun pasti ingin bahagia, menjalani hidup sesuai fitrah keperempuanannya. Menikah, menjadi ibu dan pengatur rumah tangga tanpa terbebani dengan hal-hal lain di luar fitrahnya.

Namun pada faktanya, kapitalisme telah merenggut fitrah keperempuanan. Banyak perempuan terpaksa terjun di sektor publik, mencari nafkah bagi diri bahkan keluarganya. Mereka harus berbagi peran dengan sang suami, tak sedikit pula yang sama sekali meninggalkan peran sebagai ibu dan pengatur rumahtangga karena pekerjaannya. Parahnya, menurut Pendiri Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Nani Zulminarni  dari 60 juta rumah tangga di Indonesia, tidak kurang dari sepuluh juta kepala keluarganya adalah perempuan (antaranews.com).

Sebagian besar perempuan yang terpaksa mencari nafkah sendiri dan mengambil alih peran sebagai kepala keluarga adalah karena perceraian. Namun haruskah seperti itu? Bagaimana sebenarnya sistem kapitalisme ini memandang perempuan?

Kekeliruan Paradigma

Paradigma Kapitalisme bertumpu pada tiga hal. Pertama: memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Kedua: menjadikan manfaat sebagai standar ukuran. Ketiga; kebahagiaan diukur berdasarkan seberapa besar materi yang berhasil ia raih.

Begitupun ketika memandang perempuan, kapitalisme memandang berdasarkan seberapa besar materi yang bisa diperoleh perempuan. Negara yang menerapkan sistem kapitalisme dan liberalisme memandang perempuan berdasarkan kontribusinya dalam mendukung perekonomian negara. Tak heran jika Negara ini mendorong penuh kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah dan mengabaikan peran domestik (sebagai ibu dan pengatur rumah tangga), karena peran itu tidaklah menguntungkan secara ekonomi.

Pada akhirnya prinsip ini juga merasuki ranah keluarga. Pembagian peran tak lagi berdasarkan fitrah, namun lebih kepada siapa yang paling berpotensi menghasilkan materi. Ketika lapangan pekerjaan lebih memilih pekerja perempuan, maka akhirnya perempuan lah yang berperan sebagai pencari nafkah keluarga. Apalagi bila suami sudah tak ada, entah karena bercerai ataupun meninggal dunia, otomatis peran itu berpindah ke pundak perempuan. Sulitnya keadaan ekonomi ditambah sistem yang individualis membuat kerabat para janda banyak yang tak mau ambil pusing dalam menafkahi mereka.

Soal Nafkah dalam Khilafah

Khilafah adalah institusi Negara yang menerapkan Syariat Islam secara sempurna. Berbeda dengan Kapitalisme, Islam memandang perempuan sebagai pencetak generasi dan peradaban. Fungsi utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga bukanlah peran remeh, sehingga butuh kesungguhan dan keoptimalan di dalamnya. Oleh karena itu, perempuan tidak dibebani tugas mencari nafkah.

Dalam hal penafkahan, Islam telah menetapkan laki-laki lah yang wajib menafkahi istri, anak-anak, orangtua, serta saudara perempuannya -jika tidak ada yang menafkahi sesuai dengan jalur perwalian (QS. Al-Baqarah : 233)-.

Dalam kurun waktu diterapkannya Khilafah, banyak fakta menarik seputar tuntutan nafkah. Di antaranya terjadi pada masa Kekhilafahan Utsmani (Sumber: Sancar, Aslı; Ottoman Women Myth and Reality, Tughra Books, Clifton USA, 2011; halaman 141; Catatan Pengadilan Amasya Sicil Turki Utsmani;), sebagai berikut :

Cennet Ana binti Sheik Mehmet Efendi: “Aku adalah istri dari Abdul Fettah bin Abdul Khadir dari distrik Gulluk, orang yang telah hilang untuk waktu yang lama. Aku ingin tunjangan nafkah.” Lalu Cennet Ana diminta untuk bersumpah bahwa suaminya tidak memberikan apapun untuknya. Lalu dia diberikan 15 akce per hari dan izin untuk mendapatkan pinjaman.” (*)

Mehmet bin Abdullah dari Bursa, memerintahkan saudaranya Mustafa bin Usman untuk membayar nafkah keluarganya sebelum dia pergi ke Izmir. Karena Mustafa tidak memenuhi tugasnya, Kerime Hatun bin Recep, istri Mehmet, mengajukan ke pengadilan untuk pembayaran nafkahnya.

Abdussalam mengajukan sebuah tuntutan: Suami Emine (anak perempuanku), Abu bakar, menceraikannya. Dia telah pergi entah kemana, tanpa memberikan nafkah untuk kedua anak Emine. Aku ingin 4 akce per hari disediakan untuk mereka. Lalu hal ini dilakukan.” (Catatan Pengadilan Amasya 1034)

Tidak hanya istri, namun juga ibu, anak perempuan, kakak perempuan dapat mengajukan aduan ke pengadilan jika anak laki-laki, saudara laki-laki atau ayah mereka tidak memberikan nafkah.

Behzat binti Abdullah dari distrik Hamza Fakih di wilayah Uskudar, Istanbul menuntut di pengadilan terhadap anak laki-lakinya Saban Celebi: “Saya sangat sakit, tua dan miskin dan tidak dapat memenuhi kebutuhan diri saya sendiri. Sementara kondisi keuangan anak laki-laki saya baik, Saya meminta pengadilan untuk membuatnya menunaikan kewajiban syariah dan memberikan nafkah harian untuk saya.” Saban Celebi dikonfirmasi atas aduan ibunya tersebut. Pengadilan mewajibkannya membayar 5 akce per hari. Dan perempuan tersebut diizinkan untuk menggunakan uang itu sesuai keinginannya.

Sikap Perempuan

Dari contoh di atas terlihat jelas perbedaan fakta penafkahan perempuan di alam kapitalisme sekarang dengan masa kekhilafahan. Apa yang terjadi di masa kekhilafahan adalah karena komitmen penerapan syari’at Islam oleh Negara begitu kuat, sehingga Negara pun tak abai melindungi kaum perempuan dari kelalaian penafkahan oleh suami atau walinya.

Di sisi lain, Negara Khilafah juga berkewajiban mendidik rakyatnya agar senantiasa terikat dengan Akidah dan syariat Islam. Agar rakyat paham kewajiban mereka dalam menjalankan peran di tengah-tengah keluarga dengan sempurna.

Jika sudah demikian, sebagai perempuan tentu secara fitrah kita menginginkan perlindungan menyeluruh, baik itu dari suami atau wali, dan juga dari Negara. Tak pelak lagi, sudah sepatutnya bila kita memilih turut berjuang sepenuh hati dalam upaya penegakkan syari’at Islam dalam institusi Negara Khilafah Islamiyyah. Wallahu a’lam

Oleh : Maya Dewi S, Anggota MHTI

(fauziya/islampos/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Hati-hati Terjebak Syirik Kecil
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Jangan Sembarangan Menuduh Muslimah Sebagai Pelacur !
Memurnikan Keikhlasan
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Agar Bahagia, Sesuaikan Harapan Pernikahan Anda
Tips Menjalani LDM Bagi Suami Isteri
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk