Hukum Menghina Ulama

Muslimahzone.com – Maraknya bermunculan orang-orang yang secara terang-terangan menghina ulama adalah sebuah duka bagi kaum Muslimin. Bagaimana tidak, ulama adalah pewaris para Nabi. Bahkan orang yang menghina merekapun belum tentu lebih baik di sisi manusia apalagi di sisi Allah ta’ala. Apakah mereka merasa telah terjamin surga sehingga lidah mereka begitu tajam melukai hati para ahli ilmu Islam ini?

Dari akun facebook KH. Hafiz Abdurrahman, berikut adalah hukum bagi mereka yang menghina ulama :

Kewajiban Menghormati Orang Mukmin Dan Larangan Menyakiti Mereka

Al-Quran melarang orang-orang beriman menyakiti saudara Mukmin tanpa ada alasan yang dibenarkan. Banyak ayat yang menjelaskan masalah ini, di antaranya adalah Firman Allah swt:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [TQS Al-Ahzab (33): 57-58]

Imam Sa’adiy di dalam Kitab Taisiir al-Kariim al-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Manaan menyatakan:

وإن كانت أذية المؤمنين عظيمة، وإثمها عظيمًا، ولهذا قال فيها: { وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا } أي: بغير جناية منهم موجبة للأذى { فَقَدِ احْتَمَلُوا } على ظهورهم { بُهْتَانًا } حيث آذوهم بغير سبب { وَإِثْمًا مُبِينًا } حيث تعدوا عليهم، وانتهكوا حرمة أمر اللّه باحترامها.

Walaupun demikian, menyakiti orang-orang Mukmin adalah perkara yang besar, dan dosanya amatlah besar. Oleh karena itu, Allah swt berfirman di dalam ayat tersebut [Al-Ahzab (33):58], artinya,

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuatan”, yakni tanpa ada serangan dari mereka yang mengantarkan pada kesakitan, [maka sesungguhnya mereka telah memikul], yakni di atas pundak mereka; [kebohongan], karena menyakiti orang-orang beriman laki-laki dan wanita tanpa ada sebab, [dan dosa yang nyata], karena mereka telah bersikap melampaui batas terhadap kaum Mukmin dan Mukminat, dan menciderai kehormatan yang Allah telah memerintahkan untuk dihormati”.[Imam Sa’adiy, Taisiir al-Kariim al-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Manaan, surat Al-Ahzab (33):58]

Masih menurut beliau rahimahullah ta’alaa:

ولهذا كان سب آحاد المؤمنين، موجبًا للتعزير، بحسب حالته وعلو مرتبته، فتعزير من سب الصحابة أبلغ، وتعزير من سب العلماء، وأهل الدين، أعظم من غيرهم.

“Oleh karena itu, mencela seseorang dari kaum Mukmin wajib dikenai hukuman ta’zir sesuai dengan keadaan dan ketinggian martabat orang yang dicela. Mencela shahabat lebih berat, dan hukuman ta’zir bagi orang yang mencela ulama dan ahlu al-diin (ahli agama) lebih besar dari mereka semua”. [Imam Sa’adiy, Taisiir al-Kariim al-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Manaan, surat al-Ahzab (33):58]

Perlu diketahui bahwasanya orang yang mencela shahabat karena pershahabatannya dengan Nabi saw, absah untuk dijatuhi hukuman mati. Imam Subkiy mengatakan:

وَمَنْ أَبْغَضَ الْأَنْصَارَ لِأَجْلِ نُصْرَتِهِمْ لِلنَِّبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ – فَهُوَ كَافِرٌ

‘Sesungguhnya mencela sahabat karena pershahabatan mereka (dengan Nabi saw). Imam Ibnu Hazm rahimahullah menyatakan, “Barangsiapa benci kepada orang Anshor hanya karena pertolongan yang telah mereka berikan kepada Nabi saw, maka ia kafir”. [Al-Fashl, Juz 3/276]

إِنَّ سَبَّ الْجَمِيْعِ بِلاَ شَكٍّ أَنَّهُ كُفْرٌ، وَهَكَذَا إِذَا سَبَّ وَاحِدًا مِنَ الصَّحَابَةِ حَيْثُ هُوَ صَحَابِيٌّ، لِأَنَّ ذَلِكَ اسْتِخْفَافٌ بِحَقِّ الصُّحْبَةِ، فَفِيْهِ تَعَرَضَ إِلى النَّبِي – صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Imam al-Subkiy rahimahullah menyatakan, “Sesungguhnya mencela seluruh shahabat maka tidak ada keraguan itu adalah kekufuran. Demikian juga jika seseorang mencela salah satu dari shahabat hanya karena ia sahabat. Sebab, yang demikian itu sama artinya meremehkan hak pershahabatan, dan itu berarti menentang Nabi saw”. [Fataway al-Subkiy, Juz 2/575]

Larangan menyakiti orang-orang beriman juga disebut di dalam hadits-hadits shahih. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Setiap Muslim atas Muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”.[HR. Imam Muslim]

Pada saat Haji Wada`, Nabi saw berkhuthbah di hadapan manusia:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ وَأَبْشَارَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ

Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatan dirimu itu haram diganggu, sebagaimana haramnya harimu ini di bulanmu ini, dan di negerimu ini. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya?”[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Hukum Mencela Ulama dan Orang Sholeh

Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ulama ahlus sunnah wal jama’ah, atas haramnya mencela orang-orang beriman, lebih-lebih orang-orang yang mendapatkan kedudukan tinggi dan menjadi simbol Islam, seperti sahabat Nabi saw, keluarga Nabi saw, serta para ulama.

Tatkala ulama ditetapkan Nabi saw sebagai waratsatu al-anbiyaa` (pewaris para Nabi), maka wajib atas kaum Muslim menghormati dan memuliakan mereka, serta fardlu atas kaum Muslim memahami kedudukan mereka agar mereka mendapatkan perlakuan semestinya seperti yang telah ditetapkan Allah swt dan RasulNya.

Adapun hukum menghina ulama dirinci berdasarkan faktanya.

Pertama, jika penghinaan, pengejekan, pengolok-olokan diarahkan pada kepribadian mereka dan sifat-sifat khalqiyyah wa khuluqiyyah (bentuk tubuh dan karakter pribadi), maka ini hukumnya haram.

Kedua, jika pengolok-olokan, penghinaan, pengejekan ditujukan pada diri mereka dalam kapasitasnya sebagai ulama yang memahami hukum-hukum syariat, maka pelakunya dihukumi kafir. Hukum ini juga berlaku atas pengejekan dan penghinaan terhadap orang-orang sholeh dan ahli ibadah, dan juga ahlu bait Nabi saw.

Di dalam Kitab Syarah Mandhumat al-Iiman, Juz 1/201 disebutkan:

سب العلماء والصالحين أو الاستهزاء بهم:
لما كان العلماء هم ورثة الأنبياء، وجب توقيرهم واحترامهم ومعرفة مكانتهم التي أحلهم الله فيها، لذلك فالاستهزاء بهم نوعان :
– الاستهزاء بأشخاصهم وصفاتهم الخلقية والخلقية، وهذا حرام.
– الاستهزاء بهم لكونهم علماء، ولما هم عليه من العلم الشرعي، فهذا كفر.

ومن هذا الباب أيضا الاستهزاء بأهل الصلاح والعبادة، أو بأهل البيت النبوي، والله أعلم.

“Menghina Ulama dan Orang-orang Shalih atau Mengejek Mereka: Ketika ulama adalah pewaris para Nabi, wajib menghormati mereka, memulyakan mereka, dan mengetahui kedudukan yang Allah swt telah berikan kepada mereka”. Mengejek mereka ada dua jenis: (1) mengejek personalitas mereka, dan shifat khalqiyyah maupun khuluqiyyah mereka; maka ini hukumnya haram. (2) mengejek keberadaan mereka sebagai ulama, yang mana mereka menguasai ilmu-ilmu syariat, maka ini hukumnya kufur. Termasuk dalam bab ini mengejek orang-orang sholeh dan ahli ibadah, atau keluarga Nabi saw. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Demikianlah, syariat Islam menetapkan hukuman yang tegas dan berat bagi penghina ulama, baik Mukmin maupun kafir. Pasalnya, ulama merupakan salah satu simbol agama Islam yang wajib dihormati, dimuliakan, dan dibela mesti harus menumpahkan darah. Lebih-lebih lagi, jika yang melakukan penghinaan tersebut adalah orang-orang kafir.

Sanksi bagi penghina ulama dari kalangan orang kafir boleh hingga taraf hukuman mati (bunuh).

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Menutup Aurat Hanya Musiman
Polemik Zakat Profesi Bulanan
Perbedaan Pendapat tentang Golongan yang Berhak Menerima Zakat Fithr
Ketika Mubahalah Telah Dipilih Sebagai Jalan Keluar
Ketika Tiga Kekuatan Menyatu di Bulan Ramadhan
Ada Keindahan Dibalik Ujian
Malam 1000 Bulan Pasti Hadir, Tidak Perlu Sibuk Mencari Tandanya
Sejauh Mana Kita Berbekal?
Adakah Rumah Tangga Ideal?
Kesederhanaan dalam Resepsi Pernikahan
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Nak, Silaturrahim Tak Hanya Saat Lebaran
Kunci Agar Anak Gemar Beribadah
Kunci Anak Agar Remaja Anda Jauh dari Kenakalan
Ma, Diperkosa Itu Diapain?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Hindari Fitnah Wanita, Istri Shalihah Gantinya
Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan…
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Biji Ketapang Gurih dan Empuk
Renyah dan Gurihnya Kue Garpu
Menu Sahur : Pepes Tahu Teri Pedas
Es Cendol Segar untuk Keluarga Saat Berbuka