Haji, Sebab Hidayah Suamiku

MuslimahZone.com ­– Keinginan untuk berangkat haji memang berawal dariku. Aku pikir keadaan kami sudah mampu untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima itu dan tidak ada udzur syar’i yang menghalangi kami. Terlebih saat itu aku lepas membaca Sirah Nabawiyah. Keinginan mengunjungi haramain begitu menggebu-gebu. Namun, sepertinya niatku itu tak sejalan dengan suamiku.

Aku ingat dulu, ketika aku menyampaikan pada suamiku bahwa tabungan kami mendapat kemudahan fasilitas haji, suamiku malah memasang wajah tak gembira. Beliau agak kesal dan mengatakan bahwa haji itu masalah serius, banyak hal yang harus diurus sebelum-sebelumnya. Beliau bahkan tak mau ambil pusing dengan segala macam urusan administrasi dan menyuruh aku yang mengurus semuanya karena ini keinginanku katanya. Selama ini beliau memang tipe suami yang sangat loyal dengan pekerjaannya dan seorang pekerja keras.

Saat itu aku hanya menyampaikan padanya bahwa kami sudah sampai pada kondisi mampu untuk melaksanakan haji dan tidak ada halangan yang dibenarkan syariat untuk menundanya. Aku tambahkan lagi bahkan dalam sebuah riwayat ancaman kafir bagi mereka yang mampu melaksanakan namun enggan memenuhinya. Suamiku yang cenderung logis, balik bertanya, “Memang iya, Ma?” Dan sepengamatanku ia tidak serta merta percaya dengan yang aku katakan.

Apa yang aku kira terbukti. Ketika kami mengadakan acara syukuran bersama keluarga besar menjelang keberangkatan, suamiku memberikan sepatah dua patah kata. Ia agak curhat rupanya, ia katakan pada keluarga, bahwa sebenarnya ia sendiri belum mau berangkat haji saat ini, namun istri benar-benar keras keinginannya, akhirnya ia ikut saja. Di acara itu kakak kami yang memang sudah berangkat haji lebih  dulu menimpali curhatan suamiku, kakak kami bilang seharusnya suamiku bersyukur punya istri yang bersemangat untuk berhaji, ada ancamannya lho untuk mereka yang sudah mampu tapi tidak mau melaksanakannya. Seperti ingat dengan pernyataanku tempo hari, ia bertanya pada kakak, “Memang iya Kak?” Maka, disinilah kemudian kakak kami itu menjelaskan beberapa hal tentang haji.

 Dan semuanya berubah ketika kami sedang melakukan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Di sana suamiku berubah 180o. Awal menikah kami adalah sepasang suami-istri yang jauh dari ibadah. Meski kecenderungan kepada dien ini kerapkali mengetuk-ngetuk kalbu kami, namun untuk mengalahkan godaan dunia terasa sangat sulit. Shalat saja sering blang-bentong, kadang shalat kadang tidak, menutup aurat pun sangat berat rasanya, ah nanti saja pikirku dulu.

Namun, seiring perjalanan usia pernikahan kami, aku dan suami mulai belajar Islam sedikit demi sedikit, dan proses kami cukup panjang terasa. Kami mulai saling berbagi ilmu dien Islam, jika suami dapat ceramah Jum’at di masjid, ia akan menceritakan padaku. Pun sebaliknya, jika aku selesai membaca sebuah buku agama, aku yang akan berbagi cerita. Singkat cerita, aku memutuskan untuk berkerudung panjang dan berjubah. Tapi ternyata suamiku tidak sreg dengan penampilan baruku, ia komplain seolah malu. Bahkan sempat beberapa waktu tak mengajakku pada jamuan-jamuan kantornya. Meski begitu, biidznillah tekadku tak goyah, aku berusaha bersabar meski ada sedih yang menggelayut di hatiku.

Namun, masya Allah ketika di Tanah Suci sikap suamiku benar-benar membuatku layaknya tuan putri yang dikejar-kejar pangeran kasmaran. Ia melayani semua kebutuhanku, ia minta maaf atas sikapnya dulu, ia sangat-sangat berterimakasih padaku atas desakanku untuk haji dulu itu, dan mendadak menjadi suami romantis. Masya Allah walhamdulillah.

Disana rupanya suamiku melakukan banyak perenungan dan memperoleh pencerahan. Disana ia bertanya padaku, “ Ma, kenapa thawaf itu tujuh kali ya Ma, kenapa juga harus sambil berdzikir?” Aku yang tidak terbiasa kritis dan terima-terima saja menanggapi, “Sudah lha Pa, memang dari sananya.” Selang beberapa waktu suamiku tiba-tiba berkata padaku, “Ma, Papa tahu kenapa thawaf itu mutarnya tujuh kali.” “Kenapa Pa?”, kejarku. “Manusia itu tidak bisa lepas dari angka 7, coba sepekan tujuh hari, itulah hari-hari yang terus dilewati oleh manusia sepanjang hidupnya, seperti itulah thawaf, dan dzikir itu, artinya manusia tidak boleh lalai dari dzikir kepada Allah pada sepanjang kehidupannya,” begitu urainya panjang lebar. Aku hanya meresapi kata-katanya.

Sepulang dari Tanah Suci suamiku semakin bersemangat menuntut ilmu syar’i, ia juga mendukung penuh langkahku berkerudung panjang dan berjubah. Bahkan kini aku memiliki sebuah toko busana muslim di sebelah rumah dan suamilah yang mengantarku berbelanja keperluan toko. Dan kegilaannya pada pekerjaan kini mulai proporsional, jika dulu tak ada istilah cuti, maka kini ia menyediakan cuti yang leluasa untuk i’tikaf bersama keluarga 10 hari terakhir Bulan Ramadhan. Ia juga terlihat menjadi senang bersama keluarga. Sebuah anugerah yang luar biasa. Semakin kesini perlakuannya terhadapku juga semakin hangat dan lembut, jika dulu anak-anak bermasalah maka aku yang paling ia salahkan karena itu tugasku katanya. Ya, dulu rasanya aku tertekan menjadi istrinya. Tapi sekarang alhamdulillah, jauh lebih kooperatif dan mengayomi. Aku sangat-sangat bersyukur pada Allah, semoga haji kami diterima dan kami dapat mengunjungi Baitullah kembali bersama anak-anak. Aamiin.

Seperti dituturkan Ibu A kepada Esqiel

(esqiel/muslimahzone.com)

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk