Golden Age: Tak Mungkin Terulang Lagi (Serial RAJA, PEMBANTU, dan WAZIR Bagian 2)

MuslimahZone.com – “Usia 0-8 tahun ibarat fondasi pada sebuah bangunan. Jika fondasi tersebut disusun dengan bahan-bahan yang baik dan teranyam kuat, bangunan setinggi apa pun yang ada di atasnya akan berdiri kukuh. Tak akan roboh karena gempa. Fondasi itu adalah usia anak kita 0-8 tahun. Dan bangunan itu adalah usia anak kita setelahnya.”

Seorang konsultan pendidikan terkenal, Bapak Munif Chatib dalam bukunya Orangtuanya Manusia, memberikan gambaran percobaan yang memudahkan kita memahami betapa pesatnya perkembangan otak anak di usia dini; jika kita punya bayi berusia 0-1 tahun dan kita berikan kepadanya selembar kertas putih. Perhatikan, apa yang dia lakukan terhadap kertas tersebut? Pertama-tama dia akan meraih kertas tersebut dengan cepat (antusias). Kemuadian, mulailah dia meremas-meremas kertas tersebut. Begitu mendengar suara kertas, sang bayi masih belum puas, kemudian dia masukkan kertas tersebut ke dalam mulutnya. Sekarang, coba berikan kertas putih tersebut kepada anak kita yang sudah menginjak SMP atau SMA. Tentu, respon mereka akan berbeda sekali dibandingkan dengan bayi tadi. Mungkin anak tersebut akan balik bertanya, “Ini kertas, lalu apa?”

Begitu melihat kertas atau benda yang menurut dia asing, otak seorang bayi akan melakukan eksplorasi untuk mengetahui dengan detail benda yang dipegangnya. Otak memerintahkan untuk terus discovering atau melakukan penjelajahan tentang kertas sampai kertas tersebut dimakan olehnya. Perkembangan otak, dalam hal rasa ingin tahu, sangat besar pada bayi atau anak usia dini. Bandingkan dengan anak yang sudah menginjak SMP atau SMA. Mereka sepertinya mengalami “stagnasi” berpikir tentang kertas. Percobaan tadi membuktikan bahwa perkembangan otak, dalam hal belajar, sangat besar pada anak usia dini.

Pada anak berusia 4 tahun separuh potensi intelektualnya sudah terbentuk, sehingga jika pada usia 0-4 tahun seorang anak tidak mendapatkan rangsangan otak yang tepat, kinerja otaknya tidak akan dapat bekerja secara maksimal. Pada usia 8 tahun, kinerja otak anak akan berkembang mencapai 80% dan selanjutnya akan mencapai 100% pada usia 18 tahun. Tak salah jika usia 0-8 tahun dikatakan sebagai usia emas atau golden age.

Maka, orangtua harus memberikan perhatian yang serius pada faktor tumbuh kembang secara fisik dan psikis pada anak usia dini. Jika orangtua gagal memberikan stimulus yang tepat, artinya hanya membangun fondasi  ala kadarnya untuk buah hati tercinta, pada masa remaja dan dewasa, anak layaknya sebuah bangunan dengan fondasi yang rapuh. Jika menemukan persoalan dalam kehidupan, anak tersebut akan mudah dikalahkan oleh masalah. Dia tak akan punya semangat menyelesaikannya, juga untuk berkarya dalam kehidupannya.

Kapan Usia 0 Tahun Dimulai?

Usia 0 tahun, dimulai sejak embrio  terbentuk dalam kandungan sang ibu. Lalu pada pekan pertama kehamilan, mulailah berlangsung golden age bagi si janin. Jadi, bukan dimulai sejak bayi dilahirkan.

Kemudian, sebelum usia 4 tahun, bagian otak anak yang bernama amigdala tumbuh dan mencapai puncak perkembangannya. Sementara, bagian lain yang bernama hipokampus relatif berkembang dalam waktu yang lama. Amigdala merupakan pusat penyimpanan memori yang berkaitan dengan rasa (emosi), sedangkan hipokampus merupakan pusat rasio (kognitif).

Munif Chatib dalam bukunya, Orangtuanya Manusia menganalogikan amigdala sebagai wadah atau piring yang terbuat dari anyaman sel-sel otak dan terbentuk oleh koneksi antarsel otak (neuron). Koneksi ini terjadi jika seseorang mendapatkan informasi atau stimulus yang berkaitan dengan emosi.

Pada usia 4 tahun, perkembangan otak anak sudah sempurna membentuk wadah atau piring itu terbentuk, selanjutnya stimulus atau informasi yang masuk dalam otak anak kita akan disimpan oleh piring tersebut, lalu masuk ke dalam memori jangka panjang: terpatri dan tak terlupakan seumur hidup.

Oleh karena itu, jika kita berusaha mengingat peristiwa pada saat umur 1 atau 2 tahun akan sangat sulit sekali, dan yang teringat hanyalah memori saat kita berusia TK atau usia 4 tahun keatas.

Masa Utama Menanamkan Acuan Emosi dan Tahap Memulai Penanaman Logika

Sebagai orangtua kita harus benar-benar berusaha memberikan pengalaman-pengalaman emosi yang baik pada anak kita dalam usia dininya. Dalam buku Saat Berharga Untuk Anak Kita karya Ustadz Muhammad Faudzil Adhim, disebutkan bahwa kita cenderung menggunakan pengalaman primordial sebagai acuan ketika kita berada pada kondisi kosong atau panik. Ketika kita tidak dalam keadaan jernih dan tenang dan dalam kondisi tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana seharusnya bersikap.

Jika kita sekarang mudah melayangkan cubitan, bentakan, cacian ataupun pukulan pada balita kita, ketika kita sedang dalam kondisi emosi meluap, kosong dan tidak jernih. Akibatnya, sangat mungkin terjadi, hal itu pula yang akan anak kita lakukan kelak kepada cucu kita nanti ketika anak-anak kita menjadi orangtua. Atau mereka akan menjadi anak-anak yang keras bereaksi ketika emosi mereka sedang meluap-luap di kemudian harinya. Mereka menjadi manusia-manusia yang tak pandai mengelola emosinya. Boleh jadi kita memang sangat membenci sikap kita dan sangat tidak ingin memukul mereka. Tapi jika pengalaman primordial kita seperti itu, dan kita dalam kondisi tidak tahu apa yang harus kita lakukan, maka hal itulah yang akan terjadi. Na’udzubillahi mindzalik. Astaghfirullaha wa atubuilaih. Kita berlindung dari kejahatan diri-diri kita dan dari mengakibatkan seorang muslim kepada keburukan. Aamiin.

Mungkin itulah mengapa, Rasulullah Saw, mengajarkan kepada kita untuk diam ketika marah. Untuk duduk dari berdiri, untuk berbaring dari duduk ketika kita sedang tak menguasai kejernihan akal kita. Ya, semata-mata untuk mendapatkan kendali iman dan kejernihan tindakan. Termasuk ketika membersamai tumbuh kembang balita-balita kita. Sungguh, sebaik-baik huda (petunjuk) adalah huda Muhammad Saw. Saat ini pula bagaimana spontanitas ucapan seperti mengucapkan hamdallah ketika bahagia, ber-istirja’ ketika bersedih, reflek menolong, dan kelembutan-kelembutan hati harus benar-benar kita teladankan pada mereka.

Semoga Allah memudahkan upaya kita dalam bersungguh-sungguh memberikan rangsang emosi yang baik pada balita-balita kita, meski pada praktiknya kita berkali-kali gagal. Meski berkali-kali hati kita masih saja keruh ketika menghadapi tingkah polah anak-anak kita. Paling tidak kita harus sering-sering mengingatkan diri bahwa saat inilah, acuan-acuan emosi tentang apa itu senang, sedih, rasa iba, marah, bahagia, puas, citra diri positif dan negatif, pengalaman meredam marah, dan sikap-sikap refleks (spontanitas-spontanitas) anak kita kita tanamkan benihnya. Saat inilah teladan kita benar-benar diperlukan untuk sepanjang kehidupan anak-anak kita. Ya, saat inilah kecerdasan emosi anak-anak kita dibentuk. Sepintar, secerdas, dan sekreatif apaun mereka jika tak pandai mengelola perasaan dan emosinya. Apa yang akan terjadi? Terlalu berat kita sekedar untuk membayangkannya saja. Bimbing kami ya Allah, laa hawla wa laa quwwata illaa billah.

Demikian pula adanya hipokampus, yakni bagian otak yang menjadi pusat rasio (kognitif). Bagian ini akan diisi dengan memori-memori sebab-akibat, logika-logika, dan tata nilai dan norma.

Jika ketika anak kita berusia 2 tahun ia sengaja melemparkan gelas (karena rasa ingin tahunya yang besar) kemudian kaget dan menangis. Mungkin respon kita akan memarahi gelasnya, bukan anaknya. “Gelasnya nakal ya..loncat..cup cup..”. Tapi berbeda ketika yang  anak kita sudah menginjak usia 4 tahun,  saat mungkin ia tidak lagi menggemaskan, dan melakukan hal yang sama, yakni memecahkan gelas padahal ia tak sengaja, “Uh, gimana sih, bawa gelas aja ga bisa, lemes amat! Gelas itu mahal tahu!.” 

Padahal saat ini hipokampus harus mulai kita isi dengan logika-logika yang benar dan konsistensi sikap. Agar fondasi logika mereka kokoh dan tidak mengalami kebingungan (bias). Saat ini pula acuan norma adab dan akhlak dan konsistensi sikap kita saat melaksanakannya menjadi fondasi bagi kehidupan mereka kelak.

Bersambung insya Allah…

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk