Empat Ciri Calon Penghuni Surga

Muslimahzone.com – Surga adalah tempat terindah yang diidamkan oleh setiap orang beriman. Di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan dan kenyamanan yang belum pernah dirasakan manusia selama hidup di dunia.

Allah berfirman:

أصحاب الجنة يومئذ خير مستقرا وأحسن مقيلا

“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.” (QS Al-Furqan [25]: 24).

Sebagai hadiah spesial, surga tentu tak bisa dimasuki oleh setiap orang begitu saja. Ia punya kriteria dan syarat khusus untuk bisa menikmatinya. Setidaknya bekal yang dibutuhkan dianggap cukup oleh Allah untuk mendapat izin masuk ke dalam surga.

Allah berfirman:

وأزلفت الجنة للمتقين غير بعيد ، هذا ما توعدون لكل أواب حفيظ ، من خشي الرحمن بالغيب وجاء بقلب منيب

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh dari mereka. Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaf [50]: 31-33).

Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab Al-Fawaaid menjelaskan empat ciri calon penghuni surga. Sebagai janji dari Allah untuk mendekatkan surga kepada orang-orang bertakwa dengan ciri-ciri tersebut.

Berikut empat ciri calon penghuni surga tersebut:

Pertama, Awwab. Yaitu orang yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan. Dalam makna lain disebutkan, pulang kepada dzikrullah setelah melalaikan-Nya.

Ubaid ibn Umair menjelaskan, awwab adalah yang mengingat dosa-dosanya lalu beristighfar dan bertobat. Sedang Imam Mujahid mengatakan awwab adalah orang yang mengenang kesalahannya saat sendirian, ia memohon maghfirah kepada Allah.

Melakukan kesalahan adalah keniscayaan bagi manusia. Tapi hal itu bukan alasan untuk tenggelam dalam kesalahan atau dosa tanpa perbaikan. Dengan memperbanyak istighfar, seorang hamba bisa terhindar dari memikul beban yang berat dan selalu menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan.

Allah berfirman:

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Imran [3]: 135).

Kedua, Hafidz (Memelihara aturan-aturan Allah). Ibn Abbas mengatakan bahwa maksud dari “memelihara semua peraturan Allah” ialah memelihara apa-apa yang diamanatkan oleh Allah kepadanya dan apa-apa yang difardhukan atasnya.

Qatadah berucap, memelihara semua peraturan Allah adalah memelihara semua hak dan nikmat Allah padanya. Nafsu itu memiliki dua kekuatan. Kekuatan untuk menuntut dan kekuatan untuk menahan.

Seorang awwab menggunakan kekuatan untuk menuntut tersebut dalam mendorong dirinya kembali ke jalan Allah. Sedangkan kekuatan untuk menahan itu dipakai untuk menghindari berbagai kemaksiatan dan larangan Allah.

Ibarat sebuah tanaman, ketika keimanan tersebut dibiarkan begitu saja dan tak dipelihara maka perlahan pohon keyakinan itu menjadi layu. Sebaliknya,  jika keimanan tersebut disiram, diberi pupuk dan dipelihara dengan baik, niscaya keyakinan itu tumbuh subur dan dapat dipetik hasilnya.

Terlebih karena secara mendasar, keimanan itu bersifat fluktuatif. Kadang ia mendaki naik namun tak sedikit iman itu terpelanting jatuh hingga nyaris berada di bibir jurang yang dalam. Olehnya, memupuk keimanan kita dengan amal shaleh adalah keniscayaan bagi seorang Muslim.

Ketiga, khasyyah. Secara bahasa khasyyah adalah takut. Khasyyah adalah rasa takut seorang hamba yang disebabkan ilmu yang dimilikinya terhadap hal yang ditakuti.

Semakin besar rasa khasyyah, kian besar rasa cinta seorang hamba kepada Allah. Dengan rasa tersebut, seorang hamba melakukan semua amalan yang diperintahkan demi menunjukkan cintanya kepada Allah.

Sebagaimana, rasa khasyyah dapat meminimalisasi perbuatan maksiat seorang hamba. Karena ia merasa bahwa Allah ada di mana-mana dan mengawasi tingkah lakunya sehingga dia takut untuk melakukan perbuatan maksiat.

Keempat, Hati yang inabah. Ibn Abbas mengatakan, maksudnya ialah datang dengan hati yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan. Karena hakikat inabah adalah menghadapnya qalbu kepada ketaatan kepada Allah.

Inabah merupakan inti dari ibadah yang agung. Allah mensifati para Nabi serta hamba yang beriman dengan sifat inabah ini. Allah berfirman:

“Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat.” (QS. Shad [38]: 34).

Lebih jauh Ibn al-Qayyim menambahkan, inabah adalah kembali menggapai ridha Allah dengan disertai taubat serta mengikhlaskan niat. Inabah merupakan pintu kebahagiaan untuk memperoleh hidayah dari Allah.

Demikian empat ciri calon penghuni surga yang terangkum dalam al-Qur’an. Semoga menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk memilikinya sekaligus menjadi jalan menuju pintu surga yang dijanjikan Allah. Amin.

Arsyis Musyahadah, pengajar STISHID Balikpapan

(hidayatullah/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga