Curahan Hati Petani

Oleh:

|

|

Muslimahzone.com – Masih ramai perbincangan seputar padi dan beras. Miris memang melihat kondisi pemerintahan di Indonesia. Seolah tidak ada keberpihakan sama sekali kepada rakyat kecil seperti petani.

Mereka berbicara tentang Pancasila dan keadilannya namun lupa siapa sebenarnya yang paling tidak adil pada rakyatnya. Siapa yang sebenarnya anti dengan Pancasila itu sendiri?

Tulisan berikut ini adalah curahan hati yang mungkin dapat mewakili perasaan para petani :

“40 HARI UMUR PADIKU KINI”

Kulihat hamparan sawah didepanku. Hijau memukau dan mempesona. Tiada kata yang pantas diucap, selain laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah. Tiada daya, tiada upaya melainkan dengan  izin Allaah.

Sayakah yang membuat padi ini hijau? Sayakah yang menjadikannya tumbuh? Sayakah yang merawatnya dengan baik? Setiap rumpunnya, setiap batangnya, setiap helai daunnya, setiap selnya?

Tidak, sebutir gabah pun saya tak sanggup menumbuhkannya menjadi padi. Yang saya lakukan hanyalah meremdamnya di dalam air, lalu dia saya tebar di atas tanah sawah,maka dia tumbuh dan menjadi indah. Simpel bukan? Ya, sangat simpel dari pandangan kita.

40 hari umur padiku kini. Masa penantian panjang dari menyemai dan menanam. 25 hari di pembenihan, 40 hari di lahan tanam. 65 hari berlalu dalam penantian. Menurut Anda, berapa lama lagikah saya akan menanti?

Sayapun tak tahu pastinya. Yang jelas, takdir Allaah akan padi ini sudah jelas. Kita manusia hanya melihat variabel umur padi dari varietasnya, intensitas cahaya matahari, ketersediaan air untuk irigasi, ketersediaan zat hara untuk tanaman padi, dll.

Ketika umur padi ini 36 hari, saya dikejutkan oleh berita tentang sebuah perusahaan yang diindikasi sebagai mafia beras di negeri ini. Apa salah mereka, siapa yang mereka rugikan, bagaimana itu bisa terjadi? Ah, apakah saya harus ambil pusing? Toh mereka pengusaha. Mereka kaya. Sederhana pikiran saya.

Lalu berita berikutnya muncul, adanya HET untuk beras premium di Indonesia. Hahahahahaha. Sayapun mulai tertawa. Bukan tertawa gembira, bukan tertawa bahagia, tapi tawa yang menunjukkan “kami rakyat bisa apa melawan pemerintah yang pegang kendali dalam setiap peraturannya”.

40 hari umur padiku kini. Di atas tanah sewa, mengais rizki yang sudah ditetapkan untuk semua jiwa. Tahukah Anda, saya tidak khawatir akan rizki saya. Bisa jadi saya mati sebelum panen itu tiba, bisa juga pembuat kebijakan yang mati sebelum waktu panen saya tiba, bisa jadi juga kita mati sama-sama karena jatah rizki kita sudah mencapai kadarnya.

Hanya saja, saya merasa terlalu bodoh melihat penguasa mengambil keputusan begitu cepat dalam kebijakannya. Mari sejenak kita buka-bukaan dan saya jabarkan gamblang pada Anda, dari posisi seorang petani di atas lahan sewa yang berusaha mengais rizki yang sudah Allaah atur kadarnya.

Di tempat saya, istilah “bahu” adalah ukuran paten untuk menyatakan luas areal garapan. 7.000 meter persegi jika kita gunakan besaran pastinya. Satu bahu biasanya terdiri dari 4 kotak besar. Yang bisa kita asumsikan, 1 kotak sekitar 1.750 meter persegi.

Satu bahu, upah membajak sawah dengan traktor sebesar 700.000 rupiah sampai areal siap tanam. 85.000 upah pembuatan areal pembenihan. Namping galengan (pematang sawah) dan mopok bisa menghabiskan 340.000 rupiah. Sampai tahap ini, sudah habis 1.125.000 rupiah.

Anda tidak usah tanya bibit apa yang saya gunakan. Subsidi? Hahahaha, apa itu bibit subsidi? Yang harus saya tebus dengan label ungu 1 kantong 5 kg dengan harga 50.000 Itu? Anda kira petani disini percaya dengan bibit itu?

Benih saya adalah benih yang saya ambil dari petakan saya sendiri. Saya sortir untuk saya tanam lagi. Bukan label ungu yang pemerintah bagi-bagikan dengan harga yang katanya bersubsidi. Bukan pula beli dari kios apalagi BB padi sukamandi dengan harga 9.000 perkilonya.

Masa semai tiba, plastik untuk barier tidak disubsidi. Beli lagi di kios dengan harga 1 gulung 25.000. Saat beli pupuk tiba. Sebahu saya pakai adukan 1:1 antara urea dan phonska. Tolong, jangan tanya TSP yang sangaaaaaaat langka, kalaupun ada, apakah ini yang namanya pupuk subsidi? (1 kw hargany 320.000)

Urea saya butuh 2 kw dan phonska 2 kw. Urea 182.000/kwnya dan phonska 232.000/kwnya. Pada tahap ini. Saya sudah menghabiskan 828.000 buat pupuk saja. Tambah pengeluaran awal, sudah habis 1.978.000.

Masa tanam tiba, kita masih pakai sistem “ceblokan” pada setiap kotaknya. Jadi tak terlalu pusing memikirkan upah tanam. Hanya siap-siap saja, saat panen tiba, hasilnya kita bagi 6, satu bagian milik yang nyeblok, 5 bagian untuk penyawah. Kita hanya menyediakan makanan dan uang buat bensin mereka. Yah, 100.000 itu masih besar bagi petani desa. Sudah 2.078.000 modal saya buat sebahu.

40 hari umur padiku kini. Obat perangsang anak, obat wereng, obat slundep, POC, nutrisi daun, KCL, dan lain-lain sebagainya. Kira-kira menurut anda, untuk 1 bahu saya habiskan berapa? 2 juta angkanya. Rp 2.000.000. Tak perlulah kita hitung biaya tenaga nyemprotnya. Dan masih belum hitung-hitungan fungisida dan herbisida di dalamnya sampai panen nanti in syaa Allaah tiba.

Jangan Anda tanya dosis obat kepada saya. Pertanyaan simpel petani di kala mengunjungi kios hanya beberapa kata,”obat apa yang paling perkasa?”. Mulailah keluar 550 EC, 650 EC, hahahahahaha. Adakah aturan dibuat untuk beredarnya obat-obat ini di negara kita?

4.078.000 rupiah di saat umurnya 40 hari. Tak usah Anda tanya, kenapa tinggi tanamannya beda-beda. Apakah Anda tahu, kerdil rumput yang menyerang saat ini dengan tingkat keparahan yang sangat memprihatinkan? 2 kali sudah tanaman ini ditambal sulam, tapi takdir Allaah berkehendak lain. Penyakit ini bertahan.

40 hari umur padiku kini. Termenung menunggu panen dengan segala carut marut kebijakan pemerintah. Luas memang 1 bahu. Betapa bahagianya hati ini. Sayang sedikit ini milik tuan tanah, saya hanya nyewa. 1 bahu semusim saya setor 9 juta. Jika anda tambahkan ke modal saya yang sudah terpakai, anda akan melihat angka 13.078.000 rupiah.

Jika Allaah takdirkan panen nanti, kita masih harus membayar perontok padi. Sebahu 700.000 rupiah. Upah petugas pengairan 20 kg gabah perbahu, hasil yang harus dibagi bawon (ngarit dan membawa gabah sampai pekarangan penyawah) dengan yang nyeblok. Sampai tahap ini sudah terlihat 13.778.000 + 20 kg GKP.

Syukur jika sekotak kita masih dapat 1 ton. Jika 1 bahu ada 4 kotak, maka ada 4 ton. Jika harga gabah yang ditetapkan bulog 3.700/ kg GKP,maka angka yg keluar adalah 14.800.000 rupiah.

40 hari umur padiku kini. Hahahahahaha. Hahahahahaha, hahahahahahahahahahahahahaha….

40 hari umur padiku kini. 50 hari menuju panen nanti in syaa Allaah. Adakah yang bisa memberi tahu saya, akan solusi untuk masalah ini. Apakah kalkukasi saya yang berlebihan atau pembuat kebijakan yang terlalu tak berhati?

Saya belajar dulu bisnis niaga, dimana pedagang menentukan harga dari HPP barang yang akan dijualnya. Apakah petani bisa menentukan HPP gabah mereka sendiri? Hahahahahahahaha. Sepiring steik di atas meja para penguasa itu saja pakai hitung-hitungan HPP dan belum termasuk PPN 10%. Dan kadang Anda-anda para pejabat makan steiknya ditemani nasi. Beras rastrakah yang anda pakai? Bolehkah saya tahu, dirumah dinas Anda yang mewah itu setiap harinya bersama keluarga Anda menikmati makanan beserta nasinya, apakah itu bukan beras premium mahal? Tahukah Anda dengan istilah segmentasi pasar?

Ah, petani. Sabarlah engkau. Disuruh buat kartu tani biar dapat pupuk bersubsidi. Disuruh menyerahkan bukti bayar pajak bumi dengan alih-alih melengkapi data administrasi. Apakah nasibmu akan sama dengan petani tebu yang dimintai pajak atas padimu?

Curhatan panjang petani yang masih berpikir, apakah ini cara mengusir kami dari negeri ini?

Wallaahu a’lam…

 

Satria Buana

1 dzulqa’dah 1438 H.

(fauziya/muslimahzone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *