Contoh Saja (Masih) Belum Cukup

Muslimahzone.com – Di antara cara yang saya fahami dalam mendidik anak adalah dengan memberikan contoh. Jika kita sebagai orangtua hanya pintar menyuruh anak agar melakukan suatu aktivitas atau perbuatan, maka itu belum memadai.

Tentu saja sebelum memberi contoh, kita sudah memberitahu kenapa aktivitas itu harus dilakukan, apa manfaatnya, apa kerugian jika tidak melakukannya, dan sebagainya. Nah, jika anak belum juga mau melakukan, jurus pamungkas bisa dilancarkan. Yakni menginggatkan dan menegur, termasuk juga memberikan reward (apresiasi atau hadiah) jika dia rajin mengerjakannya.

Ada sebuah pengalaman tak terlupa yang dialami penulis. Sebenarnya hal yang sederhana (namun penting), yakni gosok gigi. Anak saya berusia menjelang lima tahun. Meski sederhana, ternyata tidak mudah mengkondisikan anak agar rajin melakukannya.

Sebagai orangtua, kami melakukan berbagai cara agar si kecil rajin gosok gigi. Mulai dari nasihat, teori, berbagai kisah, sampai contoh konkrit. Ternyata semua cara itu belum efektif betul untuk membuatnya terbiasa gosok gigi tanpa disuruh atau diingatkan. Hampir setiap hari harus selalu diingatkan, bahkan harus “dipaksa” dulu dengan ditunggui. Baru kemudian dia mau menggosok gigi.

Saya juga menceritakan bagaimana teman-teman bermainnya sudah rajin gosok gigi sendiri. Namun anak saya tidak berkomentar apa-apa. Alhamdulillah memang selama ini giginya baik-baik saja, belum pernah sakit. Kami juga lupa kapan terakhir kali mengajaknya untuk periksa ke dokter gigi.

Subhanallah, akhirnya ketemu satu cara yang cukup efektif merubah keengganannya gosok gigi mandiri. Caranya juga sederhana, yaitu saya putarkan film animasi anak-anak judulnya “Mari Gosok Gigi”. Film itu saya download dari youtube. Sengaja saya search film anak dengan judul gosok gigi. Pikir saya siapa tahu dengan media film dia lebih bisa mengerti manfaat gosok gigi.

Dalam film itu diceritakan tentang seorang anak yang awalnya malas gosok gigi, meski selalu diingatkan orangtuanya. Akibatnya, ia kurang disukai teman-temannya karena mulutnya bau. Anak itu juga terkena sakit gigi sampai menangis kesakitan tidak bisa sekolah dan bermain. Sepertinya bagian inilah yang paling ditakuti anak saya.

Setelah beberapa kali menonton animasi tersebut, alhamdulillah anak saya seperti mendapat “pencerahan”. Terjadi perubahan drastis sehingga dia rajin gosok gigi, tanpa disuruh dan diingatkan. Dia lakukan secara mandiri. Kami pun senang karena tidak harus cerewet mengingatkannya.

Jika Anda mengalami hal serupa, atau permasalahan lainnya, cara ini bisa dicoba. Semoga bisa menemukan solusi yang efektif.

Sesuai (Sarana) Zamannya

Kejadian di atas sungguh memberi pengalaman berharga bagi kami sebagai orangtua. Mendidik anak di zaman sekarang nampaknya tak cukup hanya dengan nasihat dan contoh. Perlu ada kreasi lain yang sesuai dengan zamannya.

Anak-anak zaman sekarang terkadang baru “bergerak” setelah melihat dan mendengar “guru kedua”. Contoh dari orangtua atau guru ternyata belum cukup. Anak-anak perlu juga menyaksikan tayangan tentang apa yang “diceramahkan” orangtua.

Apakah memang di zaman sekarang ini media massa lebih didengar daripada orangtua dalam sebagian aktivitas anak? Saya jadi ingat ungkapan bijak “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena ia akan hidup untuk zamannya, bukan zamanmu”.

Tentu saja pembaharuan pada tarbiyah anak yang dimaksud terletak pada aspek cara atau metode menyampaikannya. Adapun mengenai esensi dan materi pendidikan tentu saja kita mengikuti perintah Allah SWT dan teladan Rasulullah SAW yang berlaku sepanjang zaman.

Penanaman aqidah merupakan pondasi kehidupan yang tidak boleh salah dan tidak boleh lelah menyampaikannya. Demikian pula akhlaq mulia sebagai perhiasan hidup seorang Muslim dengan mencontoh perilaku keseharian junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW.

Sebagai pendidik di sebuah lembaga pendidikan, saya juga mendapat banyak pengalaman berharga dalam mendidik anak. Barangkali hal ini juga Anda alami.

Sepuluh tahun atau lima belas tahun yang lalu, daya tahan anak untuk mendengarkan petuah dan nasihat orang yang lebih tua rupanya masih cukup kuat. Anak-anak tetap khidmat dalam durasi lama menyimak nasihat, baik secara personal maupun kegiatan yang sifatnya bersama-sama seperti kelas di sekolah dan forum pengajian.

Mereka tertib sambil mengangguk-anggukkan kepala, mendengarkan serta menyimak nasihat guru atau siapapun yang memberikan pengetahuan. Hampir-hampir tidak ada yang berani mengobrol sendiri atau izin meninggalkan tempat, meski mungkin cara dan isi nasihatnya kurang menarik.

Namun berbeda dengan anak masa kini. Jika nasihat, isi, dan cara menyampaikannya kurang menarik, maka anak tidak malu-malu lagi untuk menunjukkan roman muka kurang suka. Mereka juga biasa mengobrol sendiri, tidur, ataupun izin meninggalkan tempat dan tidak kembali lagi.

Alasannya bermacam-macam. Misalnya nasihatnya dianggap kelamaan, pengajar atau pematerinya tidak menarik, dan bermacam alasan lain.

Oleh karena itu, orangtua atau guru perlu memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini. Kita perlu memahami dan menggunakannya untuk kebaikan. Dalam waktu yang sama, berat rasanya kita membatasi atau melarang total anak-anak agar tidak berinteraksi dengan segala tipe alat komunikasi, gadget, dan beragam alat permainan elektronik. Kalaupun batasan di rumah bisa dilakukan, namun teman-temannya di sekolah dan pergaulan telah menjadikan barang-barang tersebut tak ubahnya jajanan sehari-hari.

Orangtua atau guru perlu secara aktif memantau penggunaan piranti-piranti tersebut. Pastikan konten atau isinya positif dan sesuai dengan usia si buah hati. Juga perlu membatasi waktu pemakaiannya sehingga tidak menganggu kehidupan sosialnya.

Tentu saja ikhtiar itu tidak menjamin seratus persen aman dari efek negatif teknologi komunikasi dan informasi. Namun paling tidak sebagai upaya menjaga barang tersebut agar tidak mengotori hati dan pikiran anak-anak sehingga berbekas dan terbawa terus sepanjang usia mereka. Semoga kesan yang terekam dalam diri anak-anak lebih banyak nilai positifnya, sebagaimana kisah gosok gigi di atas.

Menjadi orangtua yang bertanggung jawab memang berat. Namun beratnya kewajiban tersebut akan menjadi sesuatu yang mengembirakan kelak, baik di dunia maupun akhirat, jika kita mampu menjaga dan mendidik titipan Allah SWT dengan semestinya. Wallahu ‘alam.

Oleh : Syarif Hidayatullah, (guru SMP Ar-Rohmah Putra Malang) dipublikasikan dalam majalah Suara Hidayatullah

(fauziya/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk