Cerminan Wanita Shalihah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha

Muslimahzone.com – Memiliki kepribadian layaknya shahabiah di masa Rasulullah tentu menjadi dambaan para Muslimah. Bagaimana tidak, dengan menapaki jejak langkah mereka dalam mengarungi kehidupan, mengemban risalah Islam, dan berbakti pada Allah dan Rasul-Nya, kita dapat menemukan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi tangguh yang istimewa. Di antara mereka adalah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Berikut sekilas tentang beliau:

Nama Beliau

Beliau adalah Hindun bintu Abi Umayyah Hudzaifah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Beliau lebih dikenal dengan nama kuniah Ummu Salamah.

Ikut dalam Hijrah Pertama ke Habasyah bersama Sang Suami

Pada tahun kelima kenabian, kekejaman kaum kafir Quraisy semakin hebat menimpa kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

Berangkatlah dua belas pria dan empat wanita. Di antara mereka adalah Ummu Salamah bersama sang suami, Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum al-Qurasyi.

Abu Salamah rahimahullah Wafat

Ketika meletus Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, Abu Salamah terjun ke kancah peperangan. Dalam perang tersebut, sebatang anak panah melesat mengenai beliau. Lima atau tujuh bulan setelah kejadian itu, beliau wafat.

Ummu Salamah berkabung. Sepeninggal sang suami, beliau menjalani masa ‘iddah hingga selesai pada bulan Syawwal tahun ke-4 Hijriah.

Mendapat Pengganti yang Lebih Baik

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَ اللهُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللهمّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidak ada seorang muslim yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala disebabkan oleh musibah yang menimpaku dan berilah pengganti untukku yang lebih baik daripadanya,” melainkan Allah pasti memberinya pengganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)

Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam, ‘Muslim mana yang lebih baik daripada Abu Salamah? Beliau adalah seorang sahabat Nabi, sedangkan kami adalah keluarga pertama yang hijrah kepada Rasulullah?’ Aku pun membaca doa di atas, maka Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberiku pengganti yang lebih baik daripada Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Hathib bin Abi Balta’ah meminangku untuk dinikahi oleh beliau sendiri. Aku pun berkata, ‘Saya memiliki seorang anak perempuan, dan saya ini sangat pencemburu.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Adapun anak perempuan Ummu Salamah, kami berdoa kepada Allah semoga Dia memberinya kecukupan. Aku juga berdoa semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya’.” (HR. Muslim no. 918)

Demikianlah, Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjadi seorang ummul mukminin (ibu kaum mukminin), karena istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu bagi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ                                

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (al-Ahzab: 6)

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu kaum mukminin dilihat dari sisi kewajiban menghormati mereka, bukan dari sisi bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mahram mereka. Kaum mukminin yang bukan mahram bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak boleh melihat aurat mereka, berjabat tangan ataupun safar (bepergian) dengan mereka, dan melakukan hal-hal lain yang diharamkan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

bersambung …

Referensi:

  1. Zadul Ma’ad I, “Fashl Fi Azwajihi”
  2. Tahdzibut Tahdzib
  3. Hadits al-Bukhari no. 2732

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk