Canda

MuslimahZone.com – Berhibur tiada salahnya karena hiburan itu indah… Tapi pabila salah memilihnya membuat kita jadi tersalah… [Raihan]

Begitu sepotong nasyid mengalun. Badan kita, hati dan pikiran kita tak ubahnya seperti mesen blender .  Jika terus menerus berputar akan panas dan jika dipaksa terus bekerja akan mengendur, melemah kemudian rusak.

Ketika badan, hati, dan pikiran kita teramat lelah dan penat, kita kehilangan kestabilan diri. Mesti ada saja yang tak beres ketika menjalani hari-hari dengan ragam tugas dan amanah yang kita ampu. Maka ada hiburan yang boleh kita ambil. Agar semua itu kembali rileks, tenang dan stabil, sehingga diri ini bersemangat kembali menghadapi gugus fungsi sehari-hari.

Salah satu jenis hiburan itu adalah adalah canda. Bercanda, bergurau ringan dengan kawan, saudara, orang tua dapat menghadirkan senyum yang seketika mengendurkan saraf-saraf yang tegang. Canda yang dipilih dengan baik dapat mencairkan suasana yang kaku dan kikuk. Mampu pula memperbaiki ukhuwah yang retak antar sahabat bahkan mendamaikan pasangan suami istri yang bertengkar. Dua orang manusia yang berkonflik dapat langsung akur ketika salah satunya melepaskan candaan andalannya.

Canda juga sering dijadikan media pendidikan untuk mentransfer suatu budaya dan etos hidup yang efeknya cukup membekas. Canda seorang ayah kepada anak lima tahunnya dapat begitu melekat tumbuh membersamai hidup sang anak. Indah. Canda yang tulus, yang berangkat dari cinta, keinginan membahagiakan dengan menjaga kemawasan atas adab-adabnya, insya Allah tidak ringan ukurannya. 

Namun, seperti malam dan siang. Apapun memang diciptakan dengan dua sisi yang berkebalikan.  Ada kalanya canda bukan membawa kebahagiaan tapi malah sebaliknya, ia menyebabkan kesedihan, kegusaran, bahkan namimah (adu domba) dan perpecahan. Dan biasanya akibat ini tanpa disadari betul-betul sebelumnya oleh yang melepaskan canda, karena memang tabiat canda ini ringan, keluar begitu saja. Baru disadari ketika akibatnya jelas terjadi.

Canda yang tidak dipilih dengan baik dapat menjadi mata pisau yang tajam menyayat. Baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Manusia dengan segala bawaannya, latar belakang, kondisi jiwa yang berubah-ubah, tabiat dan gunungan tendensinya dapat membuat canda tak lagi menyegarkan. Pada titik yang paling ekstrim, canda dapat berubah menjadi satu bentuk kekufuran.  Kisah umat-umat terdahulu dalam Al Quran memberi tahu kita gurauan dan olok-olok yang seperti apa itu.

“Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.

Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas (dosa-dosa) mereka; tetapi (berkewajiban) mengingatkan agar mereka (juga) bertakwa.

Tinggalkanlah orang-orang  yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur’an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apapun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (QS. Al An’am: 68-70).

Naudzubillahi min dzalik.

Tak jarang pula sepotong canda membuat sebuah perpecahan yang sulit diperbaiki. Banyak sahabat yang menjauh dan pergi. Canda yang berlebihan yang dapat membuat salah penafsiran, sering merusak keceriaan di pagi hari, membuat keutuhan hari menjadi amat menjengkelkan.

Maka disini ada yang harus kita kembali sadari bahwa canda meski ringan, tapi ia adalah pilihan-pilihan sikap kita yang juga akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Ia juga menuntut kemawasan hati, pikiran, dan lisan sebelum semuanya terlanjur kita lontarkan.  Jika gumaman dan rintihan kita kepada diri sendiri saja ada hitungannya, apalagi canda kita kepada orang lain. Perkara canda ini masuk dalam bab muamalah, bab hidup paling berat dan yang paling sulit membersihkan dosanya. Bab ini adalah bab zalim dan tidak zalim, bab minta maaf dan memberi maaf.

Ini bukan tentang apa yang kita candakan dan apa yang kita maksudkan, melainkan lebih kepada apa yang akan orang lain tafsirkan. Kita tak selalu membersamai hari-hari orang yang kita candai pun pihak-pihak lain yang mendengar canda kita. Ada latar belakang yang berbeda dan ada hal-hal yang sering kali kondisinya jauh dalam jangkauan nalar kita. Maka, kita harus lebih bijak mempertimbangkan efek dari candaan itu. Mungkin canda itu terlontar begitu saja, namun ternyata ada akibat yang tidak kita prediksikan sebelumnya. Akibatnya dapat berkepanjangan dan membekas, kadang permintaan maaf tidak menyudahi sakitnya. Ini yang akan meminta amal kita di akhirat kelak.

 Jika canda kita hanya akan membuat orang lain gusar bahkan sampai mengkufuri nikmat dan takdir Allah atas dirinya, untuk apa. Karena kita tidak pernah tahu seberapa terganggu sebenarnya orang lain atas canda kita itu. Jika diam lebih selamat, maka lebih baik diam. Karena canda yang baik adalah canda yang membuat semua bahagia, bukan membuat banyak orang tertawa namun satu jiwa malu, terluka lantas merutuk dan menjauh. Lebih lagi canda kita bisa saja menjadi pemantik bagi orang lain untuk tidak bersyukur dan bersikap buruk lainnya. Bukankah dalam dzikir kita pada pagi dan petang hari kita senantiasa berlindung dari menyebabkan seorang Muslim terjerumus pada keburukan?

Memilih canda menjadi hal yang penting dalam status kita sebagai Muslim. Karena sesungguhnya kemuliaan status itu akan dilihat dan dihargai sejauh mana kita bisa memasukkan kegembiraan pada sesama Muslim, atau kepada siapa saja. Bercanda berlebihan dengan kata-kata kasar, mesum, menyinggung, bercanda lintas gender tanpa adab, tercela dalam Islam. Terlalu mubazir dan sia-sia nikmat lisan ini jika dipergunakan untuk hal itu. Ketika adab-adab sudah dilanggar, canda menjadi sayyiah karena melanggar adab adalah bentuk ketimpangan, kejahatan.

Mari kita renungkan teguran Allah dalam Al Quran;

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, dia tidak menyukai orang-orang zalim. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.Tetapi, barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada baginya pelindung setelah itu. Kamu akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab berkata,” Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”  (QS. Asy Syura:40-44).

Tiap kejahatan memang ada balasannya yang semisal, bagaimanapun caranya, dari manapun arahnya. Dan Allah sekalipun tak pernah zalim. Ada sesak yang sama, ada air mata yang sama banyaknya. Astaghfirullaha wa atubu ilaih.

Bahkan para ulama memberi peringatan khusus kepada para pencari hadits dan para penghafal Al Quran terkait canda ini. Khatib Al Baghdadi rahimahullah berkata, “Hendaklah orang yang mencari hadits menjauhi sikap main-main, bergabung dalam majlis omong kosong, gelak tertawa, dan canda secara berlebihan. Sebab, yang diperbolehkan adalah canda ringan dan jarang-jarang dilakukan serta tidak keluar dari batasan etika dan ilmu. Adapun seseorang yang terus-menerus bercanda, berkata kotor, bertindak bodoh yang membuat sesak dada dan menimbulkan kejahatan, maka hal itu adalah tercela. Banyak canda dan tertawa akan menjatuhkan wibawa seseorang dan menghilangkan harga dirinya.”1

Dari Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, ia berkata, “Penghafal Al Quran adalah pembawa panji Islam. Ia tidak boleh bergurau dengan orang yang suka bergurau, tidak lalai bersama orang yang lalai dan tidak berbuat bodoh bersama orang-orang yang suka berbuat bodoh sebagai bentuk pengagungan terhadap hak Al Quran.”2

Kemudian ada pula yang sering kali luput ketika kita bercanda. Saking ringannya dengan canda, kita kerap lupa, ketika kita bergurau pun kita tetap tidak boleh berkata dusta.

Rasulullah bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berbohong untuk membuat orang-orang tertawa karenanya. Celakalah dia! Celakalah dia! (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ad Darimi dalam Shahih Abu Dawud 4175).

Haram hukumnya dan diancam celaka, tak tanggung-tanggung dua kali celaka. Ya. Kemawasan diri, kemawasan hati, kesadaran berhubungan dengan Allah, seberapa dalam keyakinan kita atas pertemuan denganNya mewarnai canda-canda kita.

 Ya. Canda adalah martabat. Canda yang ringan itu menjadi indikator kejernihan bashirah (mata hati) kita, ketajaman pikiran kita, cermin kualitas ruhiyah kita. Dan ini yang harus kita perjuangkan dalam hidup kita, kepekaan ruhiyah sehingga segala tindak tanduk kita bersinergi terhadap arah ishlah dan perjuangan, bahkan dalam sekedar canda.

Memang tidak serta merta hal ini niscaya. Perlu latihan pada setiap marhalahnya, marhalah keyakinan atas hari pembalasan dan pertemuan. Jika untuk tidak ikut serta dalam canda yang sia-sia saja perlu satu hentakan yakin, apalah lagi jika itu menjadi irama hidup yang kadung melekat. Kata kuncinya pada: pemaksaan, pembiasaan dan (akhirnya menjadi) irama hidup yang baru. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan.

Mari kita renungkan kembali bagaimana canda terbaik manusia terbaik (shalawat dan salam atasnya).  Ketika Rasulullah (shalawat dan salam atasnya) ditanya oleh seorang nenek yang shalihah dan rajin beribadah:

 “Ya Rasulullah (shalawat dan salam atasnya), adakah kiranya harapan bagi nenek renta ini untuk memasuki surga?”

Rasulullah (shalawat dan salam atasnya) segera menjawab:

“Di surga tidak ada nenek-nenek.”

Nenek itu menangis. Namun kemudian dengan jenaka, Rasulullah (shalawat dan salam atasnya) cepat-cepat menambahkan:

“Karena di surga, semua orang menjadi muda kembali.”

Mari kita perhatikan, tak ada dusta, tapi canda yang awalnya mengaduk-ngaduk jiwa ini malah membuat kebahagiaan menjadi berlipat-lipat ketika dicelup dengan idrak sillah billah (kesadaran berhubungan dengan Allah). Rasa kecintaan mengakar semakin dalam kepada si empunya canda. Semoga Allah menjaga lisan kita dari dusta dan kesia-siaan juga dari ucapan yang melukai, sekalipun itu hanya dalam gurauan.

Kemudian kita memiliki sosok yang cukup dekat dengan hari kita kini dalam hal canda. Beliau yang wajahnya masih sempat terekam kamera, yang umurnya sempat memasuki milenium ketiga, milenium dimana kita hidup sekarang. Meski bukan kurun salaful ummah, betapa senyum terakhirnya adalah pertanda jiwanya yang dirahmati sebagai seorang hamba Allah, seperti terukir dalam sulur-sulur namanya, Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah.

Beliau adalah guru yang terkenal pandai mencairkan suasana dengan candanya. Tapi ia berhasil memilih candanya agar itu benar-benar menyegarkan, segar pikiran, segar badan, segar iman, karena tetap dalam resonansi ruhiyah dan ishlah. Ia juga menjaga candanya agar tak satu jiwa pun salah interpretasi sehingga tanpa sadar tersakiti. Masya Allah. Salah seorang sahabat karibnya, Ustadz Abu Ridho memberikan kesaksian, “Sebagai salah seorang yang dekat saya merasa banyak pelajaran yang mesti diteladani. Termasuk dalam soal memilih canda. Kini, teman bercanda itu telah tiada.”3 Semoga keteladan itu mampu kita warisi.

Kita memohon kepada Allah agar diberi kemudahan untuk menjaga canda-canda kita agar bermanfaat dan berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan dari menyebabkan seorang Muslim kepada keburukan hanya karena canda-canda kita. Aamiin.

Catatan Kaki:

  1. Tips Belajar Para Ulama hal.126, Dr. ‘Aidh Al Qarni dan Dr. Anas Ahmad Karzum, Wacana Ilmiah Press, Solo, 1429 H.
  2.  Tips Belajar Para Ulama hal. 127, Dr. ‘Aidh Al Qarni dan Dr. Anas Ahmad Karzum, Wacana Ilmiah Press, Solo, 1429 H.
  3. Majalah Tarbawi Edisi Khusus, Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru.

 (Esqiel/MuslimahZone.com)

Tags:

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk