Bisakah Daycare Menggantikan Fungsi Ibu?

MuslimahZone.com – Tempat Penitipan Anak (TPA) atau lebih popular disebut Daycare mendadak jadi topik utama beberapa media akhir-akhir ini. Pertama setelah Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal pada 20 Agustus lalu meresmikan Taman Anak Sejahtera Kencana. Daycare yang berlokasi di kantor BKKBN pusat ini merupakan tempat pengasuhan anak khususnya bagi para pegawai perempuan yang bekerja di BKKBN agar anak tetap mendapat pola asuh yang baik meski ibunya bekerja.

“Jadi pegawai wanita yang bekerja di BKKBN yang memiliki anak bisa bekerja dengan tenang karena ada tempat untuk pengasuhan putra-putrinya,” kata Fasli (Republika.co.id., 21/08/2014).

Yang kedua lebih menghebohkan, anak usia 14 bulan diduga menjadi korban penganiayaan pengasuh daycare di kantor Pertamina, Jakarta. Sang ibu mendapati adanya lebam-lebam pada tubuh anak, yang mendorongnya untuk melaporkan kasus ini ke pihak berwenang.

Daycare memang sedang booming akhir-akhir ini. Tidak hanya sekedar menjadi tempat menitipkan anak saat ibu bekerja, juga menawarkan berbagai keunggulan dalam mendidik anak.  Dari yang mengajarkan bahasa internasional, membentuk jiwa wirausaha pada anak, sampai yang memadukannya dengan pendidikan formal seperti TK dan SD.  Pengusaha daycare juga jitu dalam membidik pasar dengan menempatkannya di pusat-pusat perkantoran, atau tempat bekerja kaum ibu lainnya.

Menjamurnya daycare membuat sebagian ibu bekerja merasa tertolong dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Bagi ibu bekerja yang memiliki orangtua dekat dengan rumah, menitipkan anak pada kakek dan nenek tentu dirasa lebih murah dan aman. Atau yang masih bisa mendapatkan pengasuh, meninggalkan anak di rumah bersama pengasuhnya adalah pilihan yang lebih terjangkau. Namun sekalipun demikian, dua pilihan terakhir ini dianggap memiliki banyak kelemahan. Bila diasuh kakek dan nenek, anak cenderung dimanjakan sehingga sulit untuk menumbuhkan semangat juang yang kuat padanya. Bila dengan pengasuh, anak cenderung tergantung, biasa dilayani dan kurang berkembang intelektualnya karena rendahnya stimulasi yang didapat.

Dengan demikian, keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, lebih cenderung untuk memasukkan anak ke daycare, dengan keyakinan bahwa anak akan mendapatkan stimulasi dan pendidikan yang lebih baik. Mereka merasa lebih tenang meninggalkan anak dan merasa kewajiban mereka sebagai ibu telah ditunaikan dengan memberikan yang terbaik bagi anak di daycare. Namun benarkah demikian? 

Daycare vs Ibu

Tempat Penitipan  Anak, bagaimana pun keunggulannya, tidak akan dapat memberikan stimulasi optimal bagi anak. Tempat ini dirancang untuk menangani banyak anak, sehingga kebutuhan individu anak akan kasih sayang tidak terpenuhi. Kasih sayang dari pengasuh tidak akan mampu untuk menyamai kasih sayang seorang ibu.

Kasih sayang bagi anak adalah salah satu makanan otak agar berkembang optimal, selain dari gizi dan stimulasi. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus juga dibutuhkan untuk perkembangan kecerdasan emosional anak. Ketika merasa disayang, ia belajar untuk menghargai dirinya, menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan untuk berempati dan berbagi kasih sayang kepada orang lain. Berbeda dengan anak yang kekurangan kasih sayang. Mereka cenderung mengembangkan perasaan negatif, merasa tidak diterima sehingga penghargaan terhadap dirinya sendiri rendah. Anak seperti ini akan cenderung menjadi anak tertutup, rendah diri dan menyimpan potensi gagal dalam kehidupannya.

Kasih sayang yang tulus dan berlimpah tentulah datang dari seorang ibu. Sesayang-sayangnya pengasuh daycare, tidak akan mampu untuk mengalahkan tulusnya kasih sayang ibu. Apalagi saat anak masih kecil, sebentar-sebentar menangis, rewel, atau mulai muncul kenakalannya.  Sehingga banyak kita dengar kasus anak yang dianiaya pengasuhnya seperti kejadian daycare Pertamina, diberi obat tidur, atau ditelantarkan.

Memang ada pengasuh yang sayang terhadap anak, dan ada juga ibu yang jahat. Tetapi itu hanya kasus, tidak banyak jumlahnya. Dan perlu diingat, kebutuhan anak tidak hanya kasih sayang.  Tapi juga dipahami, dididik dan diarahkan.

Pemahaman yang utuh terhadap anak juga tentu datang dari ibu. Orang yang paling berambisi untuk mencetak anak yang sholeh, paling gigih menghindarkan dari semua pengaruh buruk, tentu juga seorang ibu. Orang yang paling kecewa saat anaknya gagal membentuk kepribadian Islam dalam dirinya, sudah pasti adalah ibu. Bila fungsi ibu terabaikan karena  harus keluar rumah, maka adakah fungsi ini akan tergantikan?

Pentingnya Perubahan Paradigma terhadap Anak

Yang terpenting bagi orangtua adalah mengubah paradigma berpikir tentang anak. Selama ini orangtua berpandangan bahwa anak adalah aset, tempat orangtua bergantung nanti saat masa tua telah datang.  Paradigma semacam ini menempatkan anak dalam rangka kebutuhan orangtuanya.  Anak diarahkan untuk bisa berprestasi membawa harum nama orangtua. Anak dituntut juga harus bisa bekerja, mencari uang untuk menghidupi orangtua kelak. Konsekuensinya, anak harus mendapat pendidikan dari kecil untuk menghadapi persaingan pasar tenaga kerja yang kian sulit.

Semakin kecil anak masuk daycare maka ia akan mendapat pendidikan lebih baik. Selanjutnya anak harus masuk full day school di usia SD, dan boarding school di SMP atau SMAnya. Untuk membayar sekolah-sekolah mahal tersebut, ibu terpaksa bekerja juga. Dalam pemikiran ibu-ibu seperti ini, mereka tidak bersalah karena mengabaikan anak, toh mereka bekerja untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Mereka merasa tidak sanggup menjadi pendidik yang lebih baik bagi anak.

Paradigma yang seharusnya kita bangun adalah setiap anak merupakan amanah Allah yang kelak dimintakan pertanggungjawabannya. Dengan demikian, mereka merupakan ladang amal orangtuanya. Paradigma semacam ini akan membuat orangtua berupaya mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Cermat mengidentifikasi hal-hal apa yang bisa mengantarkan diri dan anaknya meraih keridhaan Allah dan apa saja yang bisa menghalanginya. Ia akan merumuskan target-target yang harus dicapai, bukan semata mengikuti keadaan dan keinginan anak, atau mengikuti air mengalir saja. Ia memilih apa yang bisa membahagiakan anak di akherat sekalipun pahit, bukan apa yang membahagiakan di dunia tapi mencelakakan akheratnya.

Ibu yang memiliki paradigma semacam ini, akan berupaya menjadikan dirinya sebagai pendidik yang paling layak bagi anak-anaknya. Ia tak segan mencari ilmu yang diperlukan, belajar lagi dari awal untuk menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.  Ia tak akan lalai membilas pikiran-pikiran merusak yang didapat anak dari luar rumah. Dan terus mencari cara untuk menjadikan anak-anaknya generasi terbaik, karena ia sadar sepenuhnya, kelak akan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya untuk anak-anak di hadapan Allah.

Oleh : Arini Retnaningsih

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga