Berbakti kepada Orangtua Setelah Meninggal

Muslimahzone.com – Berbakti kepada orangtua tidak sebatas ketika mereka  masih hidup. Sebagai anak yang shaleh, pintu birr al walidain (bakti kepada orangtua) tetap terbuka, meski mereka telah meninggal dunia. Berikut ini beberapa adab yang terkait dengan orangtua yang telah meninggal:

Tak Meratapi Kepergiannya

Diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada umatku ada empat perkara jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan. Berbangga dengan kedudukan orangtua, mencela nasab keturunan, minta hujan dengan perantara bintang, dan berbuat niyahah (meratap).”  Nabi berkata, “Wanita yang meratap, jika ia tak bertaubat sebelum matinya maka ia dibangkitkan pada hari Kiamat dengan memakai pakaian dari ter dan baju dari kudis.” (Riwayat Muslim)

Bersedih Boleh Asal…

Lain halnya ketika seorang anak menangis karena perasaan sedih semata. Hal tersebut boleh-boleh saja dan tidak termasuk kategori meratap. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpisah dengan putranya, Ibrahim, “Sesungguhnya mata ini berlinang dan hati ini sedih. Namun kami tidak berkata melainkan yang diridhai Rabb kami, dan sungguh kami merasa sedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (Riwayat Bukhari)

Memohonkan Ampun dan Rahmat

“Sesungguhnya Allah akan mengangangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Lalu dia bertanya: ‘Wahai Rabbku, dari mana aku mendapatkan segala hal ini?’ Maka Allah menjawab: ‘Dengan istighfar anakmu (di dunia) untukmu.” (Riwayat Ahmad, dengan sanad hasan).

Segera Melunasi Hutangnya

Hal pertama yang harus dikerjakan anak sepeninggal orangtua adalah melunasi hutangnya. Terlebih jika mereka meninggalkan harta warisan. Hutang tersebut harus lunas dibayarkan dari harta tersebut sebelum warisan itu dibagi. Firman Allah, “…(Pembagian-pembagian tersebut diatas) setelah (dipenuhi) wasiat yang ia buat dan (sesudah dibayar) hutangnya..” (an-Nisa: 11)

Menunaikan Nadzarnya

Diceritakan dari Abdullah bin Abbas, seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Sesungguhnya ibuku pernah bernadzar untuk menunaikan haji namun ibuku belum sempat melaksanakannya hingga ia meninggal. Apakah aku boleh menghajikannya?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, hajikanlah. Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, apakah Engkau akan melunasinya? Tunaikanlah hak Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditunaikan hakNya.” (Riwayat Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa, maka walinya (ahli waris atau keluarganya) berpuasa untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjalin Silaturahim dengan Sahabatnya

Suatu hari Abdullah bin Umar berada di atas kedelai dalam perjalanan menuju Mekkah. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang badui. Ibnu Umar bertanya: “Bukankah Engkau fulan bin fulan?” Orang itu berkata: “Benar.” Mendengar hal itu, Ibnu Umar langsung menyerahkan keledai itu beserta imamah (sorban) yang ia pakai, “Naiklah kendaraan ini,” katanya. Sebagian sahabat lalu berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuni Anda, kenapa Anda memberi orang Badui ini keledai yang Anda tunggangi dan imamah yang Anda pakai tadi?”

Abdullah bin Umar kemudian menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya termasuk birr alwalidain yang paling baik adalah seseorang menjalin hubungan dengan keluarga orang yang dicintai bapaknya setelah meninggal.’ Dan sesungguhnya bapak orang ini adalah teman ayahku, Umar bin Khaththab.” (Riwayat Muslim)

Stop Mencela

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya termasuk dosa besar yang paling besar adalah melaknat (mencela) kedua orangtuanya. Di antara sahabat ada yang bertanya; ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seorang anak mencela orangtuanya?’ Nabi menjawab, ‘Anak itu mencela bapak seseorang lalu dia balas mencela bapaknya. Anak itu mencela ibu seseorang lalu dia balas mencela ibunya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dikutip dari rubrik Adab, Majalah Suara Hidayatullah, edisi Februari 2009

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Hati-hati Terjebak Syirik Kecil
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Jangan Sembarangan Menuduh Muslimah Sebagai Pelacur !
Memurnikan Keikhlasan
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Agar Bahagia, Sesuaikan Harapan Pernikahan Anda
Tips Menjalani LDM Bagi Suami Isteri
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk