Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?

Oleh: Siti Andriani

Muslimahzone.com – Terkait dengan pembelajaran matematika untuk anak usia dini, hal yang paling utama adalah membangun pemahaman anak, dalam dunia seperti apa dia tinggal, dan bahwa matematika erat kaitannya dengan dunia itu, dunia kesehariannya. Hal-hal yang perlu diajarkan, atau lebih tepatnya difasilitasi untuk belajar anak adalah sebagai berikut.

1. Memberikan kesadaran bahwa dunia sekitarnya terkait dengan simbol matematika, misalnya simbol bilangan. Kita dapat membangun kesadaran itu setiap waktu saat berkegiatan bersama anak-anak. Berikut beberapa contoh percakapan membangun kesadaran matematika.

“Kita baca buku dari halaman 1 ya, atau kamu mau dari mana? Oh, halaman ini. Oke, kita baca buku dari halaman 7, ya.”

“Yuk, kita nunggu kereta di jalur 2.”

“Kemarin kita baca halaman 7, bagaimana kalau kita lanjut ke halaman berikutnya, halaman 8?”

“Kamu adiknya 1, kalau Deri adiknya 2.”

“Harga sirupnya tertulis di sini nih, Kak.” (menunjuk harga di supermarket)

“Duh, telurnya pecah 4.”

“Kita bayar di kasir dulu ya. Nanti kasirnya menghitung dulu berapa harga belanjaan kita, baru kita bayar. ” (mengamati harga yang tertera di mesin kasir)

“Kita dapat kursi 17A, Dik. “

“Sekarang jam 5 pagi. “

Sesuaikan saja pembangunan kesadaran anak ini dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi sehari-hari bersama anak. Bangun kesadaran dengan cara yang mengasyikkan, bersama. Anak-anak tak perlu diuji atau meminta mereka mengingat bilangan-bilangan itu. Tak perlu juga menjelaskan apapun, jika mereka tak bertanya. Dialog saja, dan anggap anak memahami perkataan kita.

2. Memberikan pemahaman tentang hubungan antara banyak benda dengan simbolnya (menghitung banyak benda dengan benar). Saat kita memberikan 3 apel, seorang anak dapat menghitung apel tersebut 3, 4, 5, atau sekehendak hatinya. Anak yang sudah bisa berhitung 1-10 atau bahkan 1-100, belum tentu memahami hubungan antara banyak benda yang dia hitung, dengan bilangan yang disebutkannya. Jadi, kebisaan berhitung lebih seperti kebisaan bernyanyi, menghapal lagu tanpa memahami lirik yang dinyanyikannya.

Hakikatnya itu, anak belum memahami korespondensi satu-satu. Coba sediakan 5 piring dengan masing-masing sendok di atasnya. Minta anak melihat hal tersebut. Selanjutnya, pisahkan sendok dan piring jadi 2 kelompok, kelompok piring sendiri dan kelompok sendok sendiri. Jeda sebentar, minta anak memerhatikan kelompok sendok dan kelompok piring. Tanyakan, lebih banyak mana, sendok atau piring? Anak yang menjawab lebih banyak sendok atau lebih banyak piring setelah mengamati, artinya belum memahami hubungan antara banyak benda dengan simbolnya.

Jadi, tugas fasilitator untuk mengantarkan anak menghitung benda dengan benar, dengan cara menyenangkan. Ajak anak berkegiatan bersama, berhitung bersama, misalnya sebagai berikut.

“Kita siapkan 3 apelnya, yuk.”

“Yuk, kita ambil bawang putihnya 5.”

“Tangganya banyak ya, kira-kira ada berapa ya? Kita hitung, yuk.”

Ingat selalu, kegiatan harus menyenangkan. Satu kuncinya adalah kita harus selalu antusias, selalu bersemangat.

3. Memberikan pemahaman tentang simbol bilangan, selain menyatakan banyak benda, juga menyatakan urutan. Beberapa percakapan terkait urutan ini, misalnya sebagai berikut.

“Aku anak ke-2.”

“Rumahnya setelah nomor 2, yaitu nomor 3.”

“Yang baris nomor 3 dari depan, yang dapat hadiah. “

Contoh kegiatan memahami urutan, misalnya bermain menjatuhkan benda. Benda disusun dari kiri ke kanan. Sediakan kartu, tuliskan di masing-masing kartu, bilangan 1-5. Kocok kartu, ambil satu. Bilangan yang tertera di kartu, misal 4, maka benda urutan ke-4 dari kiri (atau daerah yang diberi tanda) harus dijatuhkan, misal dengan bola.

4. Membangun proses berpikir melalui pengamatan terhadap sesuatu (menemukan sendiri definisi dari sesuatu, dengan proses berpikir yang benar). Ada anak yang menganggap semua warna adalah hijau (bukan karena buta warna) atau ada yang menganggap semua hewan berkaki 4 adalah kucing. Kita dapat memfasilitasi anak membangun pemahaman tentang beberapa hewan berkaki 4, misalnya dengan bertanya sebagai berikut.

“Oh, ini kucing ya (nunjuk kambing), kakinya 4, tapi kok kucing yang itu ada kumisnya, yang ini nggak? “

“Kalau kucing yang ini (nunjuk sapi), kakinya 4, tapi kok kucing itu makanannya ikan, yang ini rumput? “

Melalui pertanyaan-pertanyaan itu, kita menggiring anak untuk berpikir mendefinisikan sesuatu sesuai ciri-ciri khususnya.

5. Mengajak anak menemukan manfaat dari hasil proses berpikirnya. Tidak harus selalu yang muluk-muluk, misalnya kemampuan membedakan warna dapat membantunya merapikan dan mengelompokkan sesuai warnanya. Bisa juga merapikan mainan sesuai manfaat atau usia bermain. Hal itu akan memudahkannya menemukan mainannya, jika sewaktu-waktu akan menemukan mainan.

Bisa juga membawanya ke perpustakaan, dan mengamati bagaimana menemukan buku tertentu menjadi lebih mudah. Dapat pula kita mengamati kalau kita dikelompokkan satu RT karena rumahnya berdekatan.

Demikianlah 5 hal yang perlu difasilitasi dalam mengajarkan matematika pada anak. Pasti teman-teman juga sudah pernah melakukannya, kan? Selanjutnya, setelah tahap ini, dapat lanjut ke tahap berikutnya yaitu memahami hubungan antar simbol. Contoh hubungan antar simbol adalah tambah, kurang, kali, bagi, perangkai logika, dan lain-lain. Setelah hal itu dipahami, kita perlu mempelajari model solusi untuk suatu masalah. Puncak dari belajar matematika adalah mencapai spiritualitas diri tertinggi. Selamat belajar .

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Curahan Hati Petani
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Jangan Sembarangan Menuduh Muslimah Sebagai Pelacur !
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Agar Bahagia, Sesuaikan Harapan Pernikahan Anda
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk