Belajar dari Kisah Pemuda Ashabul Kahfi

Oleh:

|

|

Muslimahzone.com – Bagi keluarga Muslim, tentu sudah tidak asing dengan kisah Ashabul Kahfi. Kisah yang menceritakan  tentang beberapa pemuda yang berlari dan bersembunyi dalam gua untuk menghindari kejaran bala tentara yang memaksa mereka mengikuti kehendak penguasa. Mereka tertidur dalam gua ratusan tahun lamanya, lalu bangun di suatu zaman yang sama sekali baru untuk mereka. Penguasa lalim telah berganti dengan penguasa adil.

Diabadikan Allah kisah ini dalam satu surat Al-Qur’an yaitu Al-Kahfi dimana digambarkan bagaimana Allah menjaga para Ashabul Kahfi di dalam gua selama rentang waktu 309 tahun atau dikatakan tidak dapat dipastikan waktunya karena Allah yang Maha Tahu.

“Dan kamu akan melihat matahari, ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” (QS.Al-Kahfi:17)

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur, dan kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua.” (QS.Al-Kahfi:18)

Siapakah sesungguhnya para pemuda Ashabul Kahfi ini? Apa yang telah mereka perbuat sehingga demi menjaga mereka, Allah sampai menyuruh matahari membelokkan sinarnya? Bahkan tidurnya mereka pun, dijaga Allah hingga perhitungan paling tepat kapan mesti balik ke kanan dan kapan mesti balik ke kiri. Kita pasti berpikir bahwa mereka pasti adalah orang-orang istimewa hingga kisah mereka diabadikan dalam Al-Qur’an yang suci yang menjadi panduan hidup umat manusia.

Mereka adalah pemuda biasa. Bukan nabi, bukan pula ulama. Mereka hanyalah pemuda-pemuda yang berusaha mempertahankan keislamannya walaupun orang-orang di sekitarnya tak suka.

Jika kita perhatikan,  zaman para Ashabul Kahfi ini kurang lebih mirip dengan zaman kita sekarang. dimana tidak ada nabi ataupun rasul. Negara dipimpin oleh seorang penguasa yang tidak menegakkan hukum-hukum Allah. Peraturan negara dibuat sedemikian rupa sehingga menyulitkan orang-orang yang ingin menyembah Allah.

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia (Allah), sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah).” (QS.Al-Kahfi:15)

“Sungguh, jika mereka mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS.Al-Kahfi:20)

Sikap inilah yang menjadi jawaban mengapa para pemuda Ashabul Kahfi itu istimewa di hadapan Allah sehingga dimuliakan-Nya dengan penjagaan yang luar biasa selama waktu yang lama di dalam gua:

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada (Allah) Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk,” (QS.Al-Kahfi:13)

“dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: Tuhan kami adalah tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian, telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS.Al-Kahfi:14)

Para pemuda Ashabul Kahfi teguh bertahan mempertahankan keislaman mereka. Mereka berani berkata : ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru tuhan selain Dia’. Bukankah ini adalah perkataan yang luar biasa ketika di masanya orang-orang malah berpaling dari Allah.

Dari kisah mereka kita bisa belajar bahwa hal terpenting yang harus kita tanamkan pada diri kita juga anak-anak kita adalah keimanan dan keislaman. Keteguhan untuk mempertahankan iman itu hingga mengakar kuat dalam hati. Hingga dengan lantang mereka berani berkata ‘Tuhanku adalah tuhan langit dan bumi, dan aku tidak akan menyembah tuhan lain selain Allah’, walaupun orang lain menentang mereka.

Dengan demikian insya Allah, hidup di zaman seperti apapun anak kita nanti, Allah akan memberikan jaminan perlindungan pada mereka. Perlindungan terbaik seperti yang telah Dia berikan pada para pemuda Ashabul Kahfi dulu. Allah akan memudahkan urusan mereka bahkan sampai urusan tidurnya. Maka kita berdo’a dan berusaha untuk menjadikan mereka sebaik-baik generasi yang akan berpegang teguh pada keimanan dan agamanya hingga mereka dapat menjadi generasi yang mampu menggenggam peradaban mulia.

(fauziya/muslimahzone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *