Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?

Muslimahzone.com – Permasalahan pada anak memang akan selalu hadir mewarnai kehidupan keluarga. Bahkan yang menemukan masalah pada anaknya bukan hanya kita, sekelas pembicara parenting pun pasti pernah menemuinya. 

Simak tulisan dari abah ihsan berikut ini yang diambil dari akun facebook Abah Ihsan Official:

Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?

Oleh : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Tulisan ini untuk yang mau belajar. Bukan untuk yang nutup mata hati pikiran. Agar menjaga ghirah kita untuk tidak menyerah dengan keadaan.

Pernah dengar kalimat macam ini?

“Saya melakukan kekerasan pada anak saya. Saya tahu teorinya memukul anak itu salah! Saya tahu! Jangan nasihati saya dengan kalimat semacam itu.

Saya tahu saya salah, tapi bagaimana jika Anda dalam posisi saya? Si kakak mendorong adik yang mau merebut mainan mobil-mobilannya, sampe kepalanya jatuh dan bocor. Spontan saya banting mobil-mobilannya, saya pukul anak saya! saya jengkel, emosi!

Bagaimana saya mengatasi ini dan agar terhindar secara efektif dari situasi macam ini secara real, tanpa pake teori-teori?

Sudah muak saya dengan berbagai macam teori parenting. Berbagai teori parenting yang saya baca, praktiknya tidak semudah kenyataan.

Apakah memang menghadapi anak itu semudah tulisan dan seindah omongan pembicara-pembicara parenting itu? Apa sih rahasianya sehingga pembicara parenting seolah tak pernah punya masalah? Apakah para pakar parenting itu tidak pernah menghadapi masalah seperti yang saya alami?!”

Pernah dengan orang yang curhat mirip itu baik secara langsung atau via medsos?

Kenyataannya, saya sungguh penasaran, ini masalah dianggap sepele apa serius? Jika sepele, ya berarti gampang dong menyelesaikannya.

Jika masalah ini dianggap serius, harusnya tindakannya ya serius juga dong. Bayangkan kita lagi problem dengan tubuh kita, dengan kesehatan kita, masalah dengan tubuh kita. Jika dianggap serius ya jangan sekadar curhat gak jelas apalagi cuma di medsos, datangi dokter. Datangi helper. Kecuali mampu ngurus sendiri, gak butuh pertolongan orang lain.

Jika perbuatan “mukul anak” itu masalah serius, ya datangi psikolog, konseling khusus. Datangi ahli yang dipercaya. Minimal ikhtiar. Masalahnya, ikhtiarnya sudah dilakukan belum? Tidak semua ahli cocok, ya normal. Pertanyaanya, emang sudah semua pakar parenting didatangi?

Saya juga penasaran, seharusnya semakin banyak ilmu, semakin ketemu kerangka berpikir masalah-masalah begini.

Saya penasaran berapa banyak buku sih yang sudah dikhatamkan?

Berapa banyak training parenting yang diikuti?

Yang gak sepotong-sepotong loh. Bukan yang sekadar seadanya 2-3 jam, lalu setelah pulang punya perasaan bersalah lalu kemudian bingung praktiknya di rumah.

Saya, ayah dari 6 orang anak. 3 Diantaranya cowok. Dua sudah remaja. Namanya anak, bukan orangtua, bukan orang dewasa. Mereka butuh waktu untuk menjadi dewasa. Kita saja yang sudah merasa dewasa masih punya salah, apalagi anak.

Menghancurkan ipad saya, merusak 3 laptop saya, mencoret daleman mobil, membaret pintu mobil yang baru dibeli (gak satu mobil loh yang dirusak), membanting iphone saya, menggunting jari sodaranya, mendorong sodaranya hingga berdarah, dan seabrek “masalah” lainnya gak mungkin disebutkan semuanya.

Tentu saja semuanya dilakukan gak sengaja bukan? Semua anak ketika belajar bersepeda kadang terjatuh. tahu maksudnya? Sesekali celaka bahkan mencelakai tidak bisa dihindari. Kitalah orangtua yang harus bertanggung jawab. Anak tetaplah anak.

Anak saya yang menggunting (gak sengaja) jari saudaranya ampir putus, salah gak? ya jelas salah! tapi kita pun ikut berkontribusi pada kesalahan anak saya. Kenapa saya tidak mendampingi anak saya ketika bermain dengan alat yang membahayakan? Kenapa saya membiarkan benda-benda berbahaya dalam jangkauan anak?

Karena tahu saya juga ikut salah. Maka sehebat apapun kemarahan saya, saya tetap TIDAK BERHAK menyakiti tubuh anak saya. Memang sejauh mana sih hak saya pada anak saya?

Jadi tidak ada di dunia ini orang yang menulis dan memberi nasihat itu harus SEMPURNA. Jika ada, kasi tau saya satu, saya ingin dia jadi guru saya.

“Gak usah kasih nasihat orang deh, Kayak diri lo suci ngasi nasihat sama orang!”

Setahu saya sih gak ada orang suci bebas dari dosa di dunia ini. Jika hanya mau menerima nasihat harus nunggu “yang suci” kayaknya hanya MALAIKAT deh yang berhak melakukannya. Semoga bukan pencabut nyawa.

Karena itu saya pun meski nulis buku-buku ; saya pun tetap masih butuh nasihat, saya juga punya guru, insya Allah masih rutin ta’lim. Kenapa? Jika saya atau Anda yang baca ini gak mau menerima nasihat, berarti kita memang sudah jadi MANUSIA SUCI! Jadi pikiranya jangan dibalik, orang yang mau ngasi nasihat kok dibilang “sok suci”. Justru orang yang gak mau dinasihati itulah yang “Sok suci”.

Jadi jika ada rahasia untuk istiqomah, jawabannya adalah BERJAMAAH DAN TAK BERHENTI BELAJAR. Belajarlah dengan serius, jangan sepotong-sepotong. Banyak orang “alergi” dengan teori karena biasanya belajar tidak utuh, sepotong-sepotong. Karena itu, karena saya tahu mempraktikkan ilmu tidak segampang omongan, maka alumni-alumni kelas belajar saya, disediakan banyak follow up, disediakan “jamaah” agar belajar tak henti, ada group komunitas offline dan online, boleh telepon saya jika masih kesulitan sama anak. Ada matapena, kapena, kapeline, liqo parenting dll.

Dengan berjamaah, maka Anda akan tahu bahwa ternyata bukan hanya kita “yang diuji”. Orang lain pun punya tantangan hidup sendiri-sendiri. Dengan berjamaah kita tidak merasa baper, merasa paling menderita sendirian di dunia ini. Oh orang lain punya masalah ya?

Tanpa bermaksud menganggap remeh masalah ini, masalah orangtua yang mukul karena jengkel pada anak, sebenarnya jauh lebih “ringan” dibandingkan beberapa orangtua lain yang pernah saya temui: anak remaja yang menghunuskan pisau mau bunuh ibu, tidak sekali saya tangani.

Anak yang berani menganiaya ibu saat keinginan tak dipenuhi. Anak remaja yang ngancam kabur dari rumah. Anak yang ngancam orangtua bahwa ia akan bermaksiat dan berbuat buruk jika orangtua tak menuruti keinginannya, anak yang hobby menentang dan membentak orangtua dan banyak kasus “parah” lainnya yang saya temui, lebih parah dari kasus pertama yang diceritakan.

Ada yang tidak selesai ada juga yang lebih berubah lebih baik. Bergantung kemauan dan tekad orangtua. Yang jelas merenovasi jauh lebih sulit tentunya. Yang gak selesai ya biasanya yang “defense” menutup diri. Merasa sudah tahu, merasa cukup.

Tapi yang haus belajar. Lihat hasilnya.

Apakah setelah belajar masalah akan berhenti? Sepanjang hidup manusia tetap akan punya masalah. Anak 5 tahun selesai masalah balitanya, umur anak kita nambah, beda lagi masalahnya. Anak 12 tahun beda lagi masalahnya. Anak kuliah, beda lagi masalahnya. Maka pengasuhan adalah “long life learning”. Maka mari terus belajar. Bahkan wahyu Tuhan pertama, iqro, disuruh belajar. Bukan disuruh beriman, beribadah, tapi disuruh apa? Disuruh belajar!

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk