Ajaklah Anak Berdialog

Muslimahzone.com“Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai”

Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.

Hanya sepintas melihat raut muka anak atau sikap yang ditunjukkan tidak serta merta menjadikan kita mengerti apa yang sungguh-sungguh dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Kita bisa langsung berbicara kepada mereka, tetapi kita tidak mampu mengetahui luas dan dalamnya apa yang dirasakan, dipikirkan dan diinginkan oleh anak. Kenapa? Ibarat sungai, kita belum menyeberangi. Kalau ingin mengetahui luas dan dalamnya, kita perlu menyeberanginya.

Kata Pappaseng to Ogie (Petuah Bugis), “Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai. Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.”

Lalu bagaimana cara kita menyeberangi perasaan dan pikiran anak kita? Berdialog. Kita ajak berbicara dari hati ke hati, pikiran terbuka dan perasaan lapang. Kita dengarkan pembicaraan anak, memberikan umpan balik kepadanya, dan bila diperlukan kita pun dapat menyampaikan apa yang kita pikirkan tentang dia. Melalui dialog itu kita lebih mengetahui perasaan anak sesungguhnya dan pada saat yang sama anak merasa lebih diterima.

Inilah yang patut dilakukan jika menginginkan anak memiliki sikap hormat (respek) kepada orangtua. Merasa didengarkan dan dihargai justru menjadikan anak lebih tumbuh dorongan untuk respek dan dekat hatinya dengan orang tua.

Sebaliknya, cara-cara yang menjatuhkan harga diri justru membuat anak kehilangan rasa hormat kepada orangtua. Bahkan dapat terjadi, anak mengembangkan pemberontakan dalam berbagai bentuknya. Boleh jadi ia menunjukkan ketaatan di depan orang tua, tetapi memberontak meledak-ledak di luar rumah. Ini ketika anak takut kepada orang tua. Dan sangat berbeda antara takut dan respek. Yang kedua ini mendorong anak tetap melakukan hal yang baik, meskipun orang tua tidak melihatnya.

Ibarat pemimpin, orangtua dituntut untuk “Nasiri’i alena, nasiri toi padanna rupatau. Menjaga harkat dan martabat dirinya, serta menghormati harkat martabat orang lain.”

Jadi, agar harkat dan martabat orangtua terjaga, anak menghargainya, maka kita sebagai orang tua harus menjaga harkat martabat anak. Tidak menjatuhkan di depan teman-temannya.

Kata siri’ sebenarnya memiliki makna malu. Sedangkan kata nasiri’i bermakna membuat diri sendiri malu memperbuat sesuatu yang jelek, hina, tercela. Dari makna dasar ini dapat diambil pengertian bahwa orangtua seharusnya nasiri (menjaga martabat) anaknya dengan tidak mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya. Jika anak sampai merasa dipermalukan atau jatuh harga dirinya, ia bisa kehilangan orientasi hidup yang baik. Bukankah siri’ na pesse? Malu itu luka.

Lawrence E. Tyson, Ph.D., dari University of Alabama at Birmingham menunjukkan 4 sebab kenakalan anak di kelas. Salah satunya adalah dendam. Ia terluka karena merasa dipermalukan oleh orangtua atau karena merasa orangtua tidak adil. Ketika anak mendendam kepada orangtua sehingga tidak peduli lagi dengan prestasi. Ia hanya berpikir dan berusaha untuk membayar lunas dendamnya.

Boleh jadi ketika kita selaku orangtua menjatuhkan harga diri anak, ia tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan perasaannya kepada kita. Atau ia sebenarnya cukup terbuka untuk mengungkapkan gagasannya. Tetapi ketika orang tua menanggapinya dengan mengedepankan kuasa, anak tidak punya pilihan selain taat. Dan ini bukanlah ketaatan yang baik. Di saat kecil merunduk kepada orang tua karena takut, tetapi ketika mulai beranjak besar anak mulai unjuk keberanian. Tak ada lagi perkataan orangtua yang ditaati.

Sebagian ulama mengatakan, “Al-hurmat khairum minath tha’ah.” Respect is much more better than obedience. Respek itu lebih baik daripada taat, sebab dari respek akan lahir ketaatan yang tulus. Saya lebih suka memaknai al-hurmat dengan respek daripada hormat karena kata-kata yang diserap dari hurmat ini sudah banyak mengalami pendangkalan makna. Di luar itu, kita juga mengenal istilah takzim (mengagungkan, memuliakan, menghormati) dan takrim (memuliakan, menghormati) yang biasa dipakai dalam konteks sikap kepada tamu maupun tetangga. Nah, sikap hurmat melahirkan keduanya.

Nah, bagaimana agar anak memiliki sikap kepada kita? Berusahalah memahami perasaan dan pikiran anak, mendengarkannya dan memberikan umpan balik kepada anak. Kita tidak akan tahu dalam dan luasnya sungai kecuali apabila kita telah menyeberanginya. Cara untuk menyeberangi itu adalah berdialog. Bukan menjadi orangtua yang sok tahu.*

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

(hidayatullah/muslimahzone.com)

 

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk